Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,441.00 14,441.000
AUD 10,277.30 10,277.300
HKD 1,840.36 1,840.360
MYR 3,313.82 3,313.820
NZD 9,435.71 9,435.710
NOK 1,552.60 1,552.600
GBP 18,163.55 18,163.550
SGD 10,456.86 10,456.860
CHF 14,934.53 14,934.530
JPY 11,205.48 11,205.480
MMK 7.80 7.800
INR 188.65 188.650
KWD 47,199.06 47,199.060
PKR 77.80 77.800
PHP 276.38 276.380
LKR 41.73 41.730
THB 421.54 421.540
BND 10,475.47 10,475.470
EUR 15,293.07 15,293.070
CNY 2,184.72 2,184.720
KRW 11.47 11.470
Last update: 11/05/22 13:07:11
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Rayuan Maut Obama untuk China
posted by admin on 18/11/09

INILAH.COM, Beijing – Pemerintah China dan Amerika Serikat memulai babak baru dalam lembaran hubungan bilateral kedua negara. Sukseskah rayuan maut Obama kali ini di Negeri Tirai Bambu itu?

“Hubungan AS dengan China sangat penting bagi masa depan kita bersama,” demikian pendapat Presiden AS Barack Obama mengenai negeri yang sedang ia kunjungi itu, Selasa (17/11). Pujian itu ia kombinasikan dengan pembahasan beberapa topik lainnya seperti mata uang, hak asasi manusia, dan Tibet.

Pembicaraan dengan Presiden China Hu Jintao pun berorientasi pada permintaan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang. Mulai dari perubahan iklim, perekonomian, hingga beberapa isu terkait militer China yang terkadang memusingkan Washington.

Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin sepakat menyoroti kerjasama mereka secara kongkrit dengan mendirikan sebuah Pusat Riset Energi Bersih. Selain itu mereka juga setuju berbagi informasi intelijen dan upaya lainnya untuk menumpas terorisme dan tindak kriminal.

“Kami memang memiliki kepentingan yang sama dan prospek besar untuk menjalin kerjasama dalam isu-isu besar tersebut,” ujar Hu yang juga ketua partai yang sedang berkuasa, Partai Komunis.

Permohonan Obama kepada China yang terdengar sejak KTT Komunitas Ekonomi Asia Pasifik (APEC) masih berlangsung di Singapura akhir pekan lalu, adalah untuk melemahkan mata uang yuan. China langsung menolaknya, karena tak ingin neraca perdagangan mereka dengan negara lainnya menjadi minus.

Permintaan itu sehubungan dengan fakta bahwa China merupakan kreditur terbesar Amerika dan memegang surat utang senilai hampir US$800 juta. Tak kekurangan akal, Obama menyelinginya dengan menyampaikan pujian dan kekaguman terhadap Negeri Panda yang sukses selamat dari krisis global.

Kedua negara dan 19 negara anggota APEC lainnya sukses mengeluarkan pernyataan bersama untuk menstimulasi perekonomian dunia. Dengan cara menekan proteksionisme yang selama ini menjadi halangan terbesar dalam perdagangan dunia (trade barrier).

“Peran China sangat besar dalam menolong dunia selamat dari krisis ini. Namun, ekonomi yang berkembang ini harus disertai dengan tanggung jawab yang besar,” Obama.

Begitu China menolak ‘membantu’ pemulihan AS dengan lebih banyak lagi, Obama mengeluarkan senjata rahasianya. Ia menyampaikan pendapat mengenai pelanggaran HAM yang sering dilakukan China terhadap penduduk Tibet. Terutama yang mewajibkan pemimpin spiritual daerah itu, Dalai Lama, mengungsi di wilayah India.

“Amerika menerima Tibet sebagai bagian dari China,” demikian ujar Obama yang kemudian menjadi headlines di beberapa media di negara tersebut. Namun demikian, beberapa media utama seperti China Views yang pro pemerintah menolak memberitakan pernyataan itu sebagai bentuk protes atas pernyataan Obama.

“Tak pernah kami duga, dua setengah hari keberadaannya di China bisa mengubah begitu banyak. Meski kami banyak memiliki pro dan kontra dengan negara itu,” papar Jubir Gedung Putih, Robert Gibbs.

Di akhir kunjungannya, Obama tetap meminta China memberikan peranan yang lebih besar secara internasional. Presiden AS ke-44 itu juga mencoba menyampaikan pesan bahwa hubungan dengan Amerika takkan melukai Beijing, tapi ikut membantu negara itu.

Sumber inilah.com

Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 0.000 (0 users)

Rate this news:



Online Pooling