Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,249.00 14,249.000
AUD 11,024.97 11,024.970
HKD 1,836.07 1,836.070
MYR 3,460.86 3,460.860
NZD 10,242.18 10,242.180
NOK 1,719.76 1,719.760
GBP 20,158.92 20,158.920
SGD 10,759.37 10,759.370
CHF 15,891.37 15,891.370
JPY 13,015.15 13,015.150
MMK 8.91 8.910
INR 195.28 195.280
KWD 47,401.72 47,401.720
PKR 91.83 91.830
PHP 298.62 298.620
LKR 71.84 71.840
THB 457.22 457.220
BND 10,764.03 10,764.030
EUR 17,332.08 17,332.080
CNY 2,229.23 2,229.230
KRW 12.79 12.790
Last update: 16/06/21 14:01:18
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Ekspansi Sang Gurita Melambat : PT. CP Indonesia
posted by admin on 06/01/09

INILAH.COM, Jakarta – Ekspektasi perlambatan ekonomi 2009 tak urung membuat berbagai industri mengerem langkah ekspansi dan investasinya. Demikian pula perusahaan pakan ternak yang sudah menggurita di Asia Tenggara, PT Charoen Pokphand.

Perusahaan agribisnis Charoen Phokpan Indonesia memangkas semua dana ekspansinya di 2009 akibat krisis finansial global. Salah satunya adalah menunda pembangunan pabrik pakan di Lampung senilai Rp 127 miliar berkapasitas 300 ribu ton.

Pada 2009, CPIN rencananya membangun feed mill baru di Lampung dan diperkirakan rampung pada 2009 nanti. “Meski pembangunan pabrik akan dipelajari lagi, penggunaan dana untuk maintenance dan efisiensi tetap dilakukan,” katanya.

Direktur Utama CPIN, T Thomas Effendy mengatakan, melambatnya perekonomian tahun depan dan turunnya harga komoditas akan membuat daya beli petani melemah dan berpotensi mengurangi permintaan akan pakan ternak.

Oleh karena itu perseroan memilih menunda pembangunan pabrik di Lampung tahun depan. "Salah satu alasan pembatalan rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Lampung karena kondisi krisis keuangan global, sehingga perseroan akan lebih selektif mengalokasi dananya," ujarnya.

Selain itu, perseroan juga akan mengurangi belanja modalnya 2009 menjadi Rp 100 miliar lebih rendah ketimbang alokasi tahun ini yang mencapai Rp 274 miliar.

Pemangkasan dana belanja modal ini dilakukan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global menyusul krisis di pasar keuangan dan pengucuran kredit dari perbankan yang semakin ketat.

Untuk 2008, CPIN optimistis target penjualan mencapai Rp 12 triliun dan laba bersih Rp 450 miliar akan tercapai. Ia pun memprediksikan pada 2009, perolehan penjualan dan laba hanya naik 10%.

"Untuk sales kita naik turunnya sekitar 10%. Ini karena kondisi keuangan dan nilai tukar dolar yang semakin tidak menentu. Tapi kami masih tetap optimis karena produk kami termasuk golongan primary good," katanya.

Saat ini perseroan telah membangun dan mengoperasikan delapan pabrik pakan di Indonesia, seperti Medan, Bandar Lampung, Ancol-Jakarta, Balaraja, Semarang, Krian-Sidoarjo, Sepanjang-Sidoarjo dan Makassar.

Pabrik pakan terbaru di Makassar dibangun dengan nilai investasi Rp 150 miliar memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun dan akan memenuhi kebutuhan pakan ternak di Indonesia Bagian Timur atau Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Pabrik yang dilengkapi empat silo (menara penyimpanan jagung) berkapasitas 360 ribu ton per tahun ini, dua di antaranya menggunakan teknologi terbaru dengan kapasitas masing-masing 10 ribu ton. Ini adalah silo dengan konstruksi baja terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Saat ini, Charoen Pokphand telah menguasai sekitar 35% pangsa pasar pakan ternak dan DOC (Day Old Chick) di Indonesia. Di bawahnya ada Japfa Comfeed dengan pangsa pasar 20%. Perusahaan-perusahaan lain membagi pasar dengan penguasaan sekitar 4- 5%.

Pada kuartal ketiga 2008, CPIN membukukan penjualan bersih Rp 9,977 triliun, meningkat 60,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,2 triliun.

Kenaikan ini didorong naiknya penjualan pakan ternak 78% (Rp 7,787 triliun), DOC 13,7% (Rp 1,364 triliun), daging ayam olahan 7,7% (Rp 765 miliar) dan lainnya 0,6%. Kenaikan penjualan hasil produksi perseroan sebesar 61,2% di Jawa, 22,6% di Sumatra, serta 16,3% di Kalimantan dan Sulawesi.

Laba usaha meningkat 112,33% menjadi Rp 769,937 miliar dan laba bersih setelah penyesuaian efek proforma Rp 401,388 miliar, atau naik 128,48%. Total aset mencapai Rp 5,586 triliun sedangkan total ekuitas mencapai Rp 1,468 triliun.

Kinerja yang bagus juga ditunjukkan anak usaha CPIN, PT Bisi International (BISI). Pada triwulan tiga 2008, penjualan naik 104% menjadi Rp 1,232 triliun. Laba kotor naik 163% menjadi Rp 658,734 miliar. Pos laba usaha sebesar Rp 499,301 miliar, naik 243,08% dan laba bersih sebesar Rp 335,024 miliar, naik 291,98%.

CPIN adalah bagian dari Charoen Pokphand (CP) Grup, kelompok konglomerat bisnis terbesar di Thailand yang memproduksi pakan ternak dengan total 21,5 juta ton pada tahun 2007. Ini adalah jumlah terbesar di antara 51 perusahaan produsen pakan dunia yang menghasilkan produksi pakan minimum 1 juta ton per tahun sepanjang 2007.

CP Grup telah beroperasi pada bisnis agrikultural di 13 negara, mengalokasikan dana 4 miliar baht Thailand pada 2008 untuk investasi di Vietnam, Malaysia dan Cina. Sedangkan di Laos, Kamboja, India dan Cina, CP grup mengembangkan penyimpanan produk hasil panen dan logistik.

Grup ini juga telah membangun usaha pakan ternak dan peternakan di Rusia melalui bantuan Charoen Pokphand Foods (Overseas) yang saat ini tengah mendirikan pabrik pakan ternak di negara itu dengan target produksi 240 ribu ton pakan per tahun.

Selain Rusia, CP grup akan melebarkan sayap ke Turki, Ukraina, Hungaria, Polandia dan Republik Ceko untuk pengembangan bisnis perunggasannya. Namun tahun ini ekspansi sang gurita ini bakal melambat. [E1]

Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 3.500 (4 users)

Rate this news:



Online Pooling