Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,360.00 14,360.000
AUD 10,186.84 10,186.840
HKD 1,842.11 1,842.110
MYR 3,398.74 3,398.740
NZD 9,777.88 9,777.880
NOK 1,582.12 1,582.120
GBP 19,079.58 19,079.580
SGD 10,496.32 10,496.320
CHF 15,609.84 15,609.840
JPY 12,699.02 12,699.020
MMK 8.01 8.010
INR 191.29 191.290
KWD 47,472.25 47,472.250
PKR 81.55 81.550
PHP 285.05 285.050
LKR 71.01 71.010
THB 425.09 425.090
BND 10,491.17 10,491.170
EUR 16,245.24 16,245.240
CNY 2,252.63 2,252.630
KRW 12.14 12.140
Last update: 08/12/21 13:39:22
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Senjakala Pemain Tua
posted by admin on 20/06/08

Johan, tokoh utama dalam film terakhir sineas Ingmar Bergman, ''Saraband'', mengucapkan satu perenungan yang menarik ihwal rasanya menjadi tua. Katanya, ''Di usia 60 tahun kau punya 6 cacat (flaws), pada usia 70 tahun kau punya 7 cacat, dan begitu seterusnya.''

Seiring tahun yang terus merambat, para pemain bola berusia uzur niscaya juga menyadari hal itu. Lilian Thuram, kapten Prancis berusia 36 tahun, juga mengakuinya: ''Saat masih muda, jika mendapat bola dari belakang, Anda akan maju (membantu serangan). Tapi sekarang saya tak bisa melakukannya lagi. Lapangan seperti bertambah besar setiap tahun,'' kata Thuram.

Lapangan bukan hanya makin besar, tapi para pemain uzur juga mengalami bagaimana skill dan teknik yang dulu mereka kuasai mulai memudar satu per satu. Makin banyak tahun yang dilewatkan, makin banyak kekurangan - cacat dalam kata-kata Johan-- yang menggerogoti perlahan tapi pasti tak mampu ditolak.

Di situ berlaku testimoni yang pernah dinyatakan Mark Twain, sastrawan besar Amerika yang wafat pada 1910, ketika ia sudah berusia lanjut: ''Saya seorang lelaki tua dan saya tahu punya banyak masalah, tapi tidak banyak yang bisa saya perbuat.''

Fakta bahwa masih banyak pemain uzur yang masih turun di Piala Eropa menunjukkan betapa sepak bola memang tak semata membutuhkan tenaga, tapi juga pengalaman, kecerdasan, serta visi permainan yang matang. Hanya pemain yang menjalani sikap hidup sederhana, mampu menjaga kondisi dengan disiplin, serta punya kewibawaan saja yang bisa bermain di level teratas kompetisi sepak bola tanpa digugat publik dan juga rekan-rekan satu tim.

Edwin van der Sar, 38 tahun, dan Henrik Larsson, 37 tahun, bisa diajukan sebagai eksemplar contoh. Jika para pemain Belanda atau Swedia ditanyai komentarnya ihwal van der Sar dan Larsson, mungkin akan banyak yang menjawab dengan kata-kata yang pernah dituliskan Shakespeare dalam naskah Much Ado about Nothing pada bagian 3 adegan 5: ''A good old man, Sir!"

Van der Sar bisa tetap bermain bukan hanya karena ia seorang kiper yang tak membutuhkan terlalu banyak tenaga, tapi karena ia diharapkan bisa menularkan ketenangan, kematangan, kepemimpinan, dan mental juara bisa menular pada para pemain Belanda yang rata-rata berusia muda. Fakta bahwa ia baru saja membawa klubnya, MU, menjuarai Liga Inggris dan Liga Champions sudah cukup menjelaskan kapasitasnya. Tak ada kiper Belanda yang lebih baik darinya saat ini.

Lagi pula, van der Saar dikenal sebagai figur yang sederhana, tidak banyak ulah, seorang ayah dan suami yang hangat. Karakter itu pula yang membuatnya dihormati oleh rekan-rekannya dan pantaslah jika Basten memberinya ban kapten.

Hal yang kurang lebih sama berlaku bagi Henrik Larsson. Kendati ia sudah tiga kali mencabut ucapannya untuk pensiun dari tim nasional Swedia, toh tak ada satu pun penolakan dan keberatan yang datang dari publik sepak bola Swedia. Ini sudah cukup menunjukkan betapa besar rasa hormat publik Swedia kepadanya.

Untuk ukuran striker, Larsson sudah berstatus ''lelaki tua''. Tapi ia lelaki tua yang baik, punya mental kuat dan dalam hal kesederhanaan serta kerendahhatian amat pantas dijadikan teladan, termasuk bagi Zlatan Ibrahimovic, superstar Swedia yang kerap bermasalah dengan perilakunya yang sukar diatur. Itu pula yang menjadi alasan kenapa Manchester United secara mengejutkan meminjam Larsson selama tiga bulan dari Helsingborg pada awal 2007.

''Henrik telah memberikan pengaruh positif pada setiap orang sejak kedatangannya. Pemain seperti Wayne Rooney dan Louis Saha harus mencontoh cara Henrik bergerak tanpa bola, kemampuannya melihat ruang dan caranya menyelesaikan peluang,'' kata Sir Alex Ferguson.

Pada dirinya juga melekat karakter yang belakangan terasa makin jarang ditemukan pada diri bintang-bintang bola mutakhir: kesederhanaan yang tak silau pada gelimang uang. ''Saya mencintai fans, saya juga mencintai klub. Tapi saya siap membuat keputusan dengan keluarga dan tak ada yang bisa mengubahnya,'' kata Larsson saat meninggalkan Barcelona, persis setelah ia membantu klubnya itu menjuarai Liga Champions 2006. Alasan sama diulang Larsson sewaktu tidak memperpanjang kontrak dengan Manchester United yang meminjamnya.

Jika akhirnya Larsson memutuskan bermain pada Piala Eropa 2008, pilihan itu pasti digerakkan oleh fakta bahwa ia tak harus meninggalkan keluarga terlalu lama. Lagi pula, bagi Larsson, tak ada gelimang uang di tim nasional, hanya ada kebanggan mengerek bendera tanah air sendiri.

Saya jadi ingat sosok Santiago, nelayan tua dalam novel Ernet Hemingway, ''The Old Man and the Sea''. Setelah melewati 84 hari tanpa satu pun tangkapan, kail Santiago akhirnya disantap seekor marlin raksasa. Tapi marlin itu begitu kuat hingga Santiago mesti bertarung mengerahkan seluruh kekuatan dan pengalaman yang dimilikinya.

Setelah lama bertarung hingga terluka, Santiago akhirnya bisa menaklukkan marlin itu. Ironisnya, serombongan ikan hiu menyerang tangkapan Santiago. Ia sempat hendak melepaskan begitu saja marlin tangkapannya, tapi Santiago akhirnya memilih bertarung dengan hiu-hiu ganas itu.

Santiago akhirnya berhasil selamat hingga ke pantai, tapi ia hanya bisa membawa sisa-sisa kerangka ikan marlin. Dalam kondisi yang begitu letih, sembari menyeruput segelas kopi pahit, ia bisa berkata lirih pada sahabatnya: ''They beat me, Manolin...They truly beat me."

Kisah ini menggambarkan batas antara yang mungkin dan tak mungkin dijangkau lelaki tua. Santiago menjadi cermin betapa usia tua bukan akhir dari kemungkinan berjuang meraih apa yang diinginkan.

Tak ada yang tahu bagaimana akhir perjuangan Larsson dan van der Sar di Piala Eropa 2008. Jika hasilnya tak memadai, keduanya --terutama Larsson-- toh masih bisa pulang pada kehangatan keluarga, karena baginya sepak bola tak lebih penting dari keluarga.

Hidup yang tak dipertaruhkan, meminjam kalimat filsuf Friedrich Schiller, bisa jadi tak akan pernah dimenangkan. Pada pemain tua Larsson, hidup tak dipertaruhkan seluruhnya di lapangan tapi juga pada kehangatan rumah dan keluarga. Sementara pada nelayan tua Santiago, seluruh hidupnya dipertaruhkan (hanya) di lautan dan di sana ia mengenal ikan marlin, serombongan hiu, dan gelombang yang selalu pasang.

Nasib Larsson mungkin lebih baik dari Santiago yang hanya punya seorang sahabat muda bernama Manolin. Selebihnya, seperti dikisahkan Hemingway di baris terakhir novelnya, Santiago hanya bisa pergi tidur dan sialnya malah bermimpi melihat singa.

Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 0.000 (0 users)

Rate this news:



Online Pooling