Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,360.00 14,360.000
AUD 10,186.84 10,186.840
HKD 1,842.11 1,842.110
MYR 3,398.74 3,398.740
NZD 9,777.88 9,777.880
NOK 1,582.12 1,582.120
GBP 19,079.58 19,079.580
SGD 10,496.32 10,496.320
CHF 15,609.84 15,609.840
JPY 12,699.02 12,699.020
MMK 8.01 8.010
INR 191.29 191.290
KWD 47,472.25 47,472.250
PKR 81.55 81.550
PHP 285.05 285.050
LKR 71.01 71.010
THB 425.09 425.090
BND 10,491.17 10,491.170
EUR 16,245.24 16,245.240
CNY 2,252.63 2,252.630
KRW 12.14 12.140
Last update: 08/12/21 13:39:22
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
SFC Ukir Sejarah Baru di Tengah Duka
posted by admin on 11/02/08

SOREANG (SINDO) – Sriwijaya FC lantang menegaskan, merekalah yang terbaik di Indonesia musim ini. Laskar Wong Kito sukses mengubur impian sesama tim asal Pulau Sumatera, PSMS Medan, dengan skor 3-1 pada final Ligina di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang,tadi malam.

Tak hanya sejarah menjadi tim pertama yang membumikan titel Ligina di tanah Andalas. Kemenangan ini pun mencatatkan sejarah baru: SFC jadi klub pertama di Indonesia yang sukses menyandingkan trofi juara Ligina dengan Piala Indonesia pada musim yang sama. SFC mencatatkan nama Rahmad ”RD”Darmawan sebagai sosok pelatih pertama yang sukses membawa dua tim berbeda ke tangga juara Ligina. Sebelumnya, RD meraih predikat juara Ligina saat membawa Persipura Jayapura menenggelamkan Persija Jakarta 3-2 di final Ligina XI 2005.

Sayang, laga final yang seharusnya jadi pesta para insan sepak bola Indonesia dan penggemarnya kali ini terasa hambar.Atmosfer sepak bola Tanah Air pantas disebut sedang berduka. Bukan hanya Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang tengah mendekam di penjara atau ancaman sanksi dari FIFA,tapi kompetisi juga telah banyak dinodai tindakan tak sportif di dalam maupun di luar lapangan. Masih segar dalam ingatan betapa kacaunya babak 8 besar yang dirusak oleh kerusuhan suporter di Kediri.

Puncaknya terjadi di semifinal, kala seorang fans Persija tewas di Senayan. Final yang digelar di Si Jalak Harupat pun kehilangan sorak-sorai penonton.Sepak bola sebagai olahraga yang merakyat ini telah kehilangan makna. Masih beruntung, bak oase,laga SFC versus PSMS bisa dikatakan sarat unjuk kualitas antarpemain, uji ketangguhanmasing- masinglini,dan adu strategi kedua pelatih.

Terbukti, babak perpanjangan waktu harus digunakan untuk mencari tim pemenang. ”Ini semua berkat bantuan Tuhan,semua pemain dan masyarakat Sumsel pasti senang. Saya harap keberhasilan ini tak membuat para pemain dan tim ini (SFC) jadi besar kepala,” tambah RD yang jadi otak kehebatan klub yang baru berumur tiga tahun tersebut. Perasaan serupa dirasakan Zahrahan—yang akhirnya dinobatkan sebagai pemain terbaik Ligina XIII.

Pemain yang musim lalu membela Persekabpas Pasuruan itu menyebut sukses ini sebagai buah kerja keras seluruh pemain yang tanpa henti berlatih. Suasana kontras terlihat saat memalingkan pandangan ke kubu Ayam Kinantan. Bagaimanapun,pelatih Freddy Muli mengakui SFC lebih pantas jadi yang terbaik malam ini.”Koordinasi di lini belakang kami cukup buruk,’’ kata Freddy. Kiper PSMS Markus Horison pun enggan disebut tak matang memperhitungkan keputusan saat meninggalkan sarang.”Mau kalah 1-0 atau 10-0 sama saja. Saya hanya berusaha membantu para pemain lain,” tukas Markus. (wahyu argia/nur mekah/ reza shahab/amar hamsyah/ irvan christianto/mohamad
SFC Ukir Sejarah Baru di Tengah Duka

SOREANG (SINDO) – Sriwijaya FC lantang menegaskan, merekalah yang terbaik di Indonesia musim ini. Laskar Wong Kito sukses mengubur impian sesama tim asal Pulau Sumatera, PSMS Medan, dengan skor 3-1 pada final Ligina di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang,tadi malam.

Tak hanya sejarah menjadi tim pertama yang membumikan titel Ligina di tanah Andalas. Kemenangan ini pun mencatatkan sejarah baru: SFC jadi klub pertama di Indonesia yang sukses menyandingkan trofi juara Ligina dengan Piala Indonesia pada musim yang sama. SFC mencatatkan nama Rahmad ”RD”Darmawan sebagai sosok pelatih pertama yang sukses membawa dua tim berbeda ke tangga juara Ligina. Sebelumnya, RD meraih predikat juara Ligina saat membawa Persipura Jayapura menenggelamkan Persija Jakarta 3-2 di final Ligina XI 2005.

Sayang, laga final yang seharusnya jadi pesta para insan sepak bola Indonesia dan penggemarnya kali ini terasa hambar.Atmosfer sepak bola Tanah Air pantas disebut sedang berduka. Bukan hanya Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang tengah mendekam di penjara atau ancaman sanksi dari FIFA,tapi kompetisi juga telah banyak dinodai tindakan tak sportif di dalam maupun di luar lapangan. Masih segar dalam ingatan betapa kacaunya babak 8 besar yang dirusak oleh kerusuhan suporter di Kediri.

Puncaknya terjadi di semifinal, kala seorang fans Persija tewas di Senayan. Final yang digelar di Si Jalak Harupat pun kehilangan sorak-sorai penonton.Sepak bola sebagai olahraga yang merakyat ini telah kehilangan makna. Masih beruntung, bak oase,laga SFC versus PSMS bisa dikatakan sarat unjuk kualitas antarpemain, uji ketangguhanmasing- masinglini,dan adu strategi kedua pelatih.

Terbukti, babak perpanjangan waktu harus digunakan untuk mencari tim pemenang. ”Ini semua berkat bantuan Tuhan,semua pemain dan masyarakat Sumsel pasti senang. Saya harap keberhasilan ini tak membuat para pemain dan tim ini (SFC) jadi besar kepala,” tambah RD yang jadi otak kehebatan klub yang baru berumur tiga tahun tersebut. Perasaan serupa dirasakan Zahrahan—yang akhirnya dinobatkan sebagai pemain terbaik Ligina XIII.

Pemain yang musim lalu membela Persekabpas Pasuruan itu menyebut sukses ini sebagai buah kerja keras seluruh pemain yang tanpa henti berlatih. Suasana kontras terlihat saat memalingkan pandangan ke kubu Ayam Kinantan. Bagaimanapun,pelatih Freddy Muli mengakui SFC lebih pantas jadi yang terbaik malam ini.”Koordinasi di lini belakang kami cukup buruk,’’ kata Freddy. Kiper PSMS Markus Horison pun enggan disebut tak matang memperhitungkan keputusan saat meninggalkan sarang.”Mau kalah 1-0 atau 10-0 sama saja. Saya hanya berusaha membantu para pemain lain,” tukas Markus. (wahyu argia/nur mekah/ reza shahab/amar hamsyah/ irvan christianto/mohamad
SFC Ukir Sejarah Baru di Tengah Duka

SOREANG (SINDO) – Sriwijaya FC lantang menegaskan, merekalah yang terbaik di Indonesia musim ini. Laskar Wong Kito sukses mengubur impian sesama tim asal Pulau Sumatera, PSMS Medan, dengan skor 3-1 pada final Ligina di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang,tadi malam.

Tak hanya sejarah menjadi tim pertama yang membumikan titel Ligina di tanah Andalas. Kemenangan ini pun mencatatkan sejarah baru: SFC jadi klub pertama di Indonesia yang sukses menyandingkan trofi juara Ligina dengan Piala Indonesia pada musim yang sama. SFC mencatatkan nama Rahmad ”RD”Darmawan sebagai sosok pelatih pertama yang sukses membawa dua tim berbeda ke tangga juara Ligina. Sebelumnya, RD meraih predikat juara Ligina saat membawa Persipura Jayapura menenggelamkan Persija Jakarta 3-2 di final Ligina XI 2005.

Sayang, laga final yang seharusnya jadi pesta para insan sepak bola Indonesia dan penggemarnya kali ini terasa hambar.Atmosfer sepak bola Tanah Air pantas disebut sedang berduka. Bukan hanya Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang tengah mendekam di penjara atau ancaman sanksi dari FIFA,tapi kompetisi juga telah banyak dinodai tindakan tak sportif di dalam maupun di luar lapangan. Masih segar dalam ingatan betapa kacaunya babak 8 besar yang dirusak oleh kerusuhan suporter di Kediri.

Puncaknya terjadi di semifinal, kala seorang fans Persija tewas di Senayan. Final yang digelar di Si Jalak Harupat pun kehilangan sorak-sorai penonton.Sepak bola sebagai olahraga yang merakyat ini telah kehilangan makna. Masih beruntung, bak oase,laga SFC versus PSMS bisa dikatakan sarat unjuk kualitas antarpemain, uji ketangguhanmasing- masinglini,dan adu strategi kedua pelatih.

Terbukti, babak perpanjangan waktu harus digunakan untuk mencari tim pemenang. ”Ini semua berkat bantuan Tuhan,semua pemain dan masyarakat Sumsel pasti senang. Saya harap keberhasilan ini tak membuat para pemain dan tim ini (SFC) jadi besar kepala,” tambah RD yang jadi otak kehebatan klub yang baru berumur tiga tahun tersebut. Perasaan serupa dirasakan Zahrahan—yang akhirnya dinobatkan sebagai pemain terbaik Ligina XIII.

Pemain yang musim lalu membela Persekabpas Pasuruan itu menyebut sukses ini sebagai buah kerja keras seluruh pemain yang tanpa henti berlatih. Suasana kontras terlihat saat memalingkan pandangan ke kubu Ayam Kinantan. Bagaimanapun,pelatih Freddy Muli mengakui SFC lebih pantas jadi yang terbaik malam ini.”Koordinasi di lini belakang kami cukup buruk,’’ kata Freddy. Kiper PSMS Markus Horison pun enggan disebut tak matang memperhitungkan keputusan saat meninggalkan sarang.”Mau kalah 1-0 atau 10-0 sama saja. Saya hanya berusaha membantu para pemain lain,” tukas Markus. (wahyu argia/nur mekah/ reza shahab/amar hamsyah/ irvan christianto/mohamad

Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 0.000 (0 users)

Rate this news:



Online Pooling