Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,301.00 14,301.000
AUD 10,880.05 10,880.050
HKD 1,842.19 1,842.190
MYR 3,466.52 3,466.520
NZD 10,084.07 10,084.070
NOK 1,689.15 1,689.150
GBP 19,996.81 19,996.810
SGD 10,707.40 10,707.400
CHF 15,730.03 15,730.030
JPY 12,970.54 12,970.540
MMK 8.99 8.990
INR 194.38 194.380
KWD 47,723.22 47,723.220
PKR 91.12 91.120
PHP 296.91 296.910
LKR 72.06 72.060
THB 457.01 457.010
BND 10,777.56 10,777.560
EUR 17,164.39 17,164.390
CNY 2,222.56 2,222.560
KRW 12.74 12.740
Last update: 23/06/21 13:59:54
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Kedelai & nasib tempe di era pasar global
posted by admin on 18/12/07

Siapa tak kenal tahu dan tempe? Jenis makanan ini sejak lama jadi andalan asupan gizi minimal, oleh sebagian besar masyarakat negeri ini. Terlebih terus merosotnya daya beli masyarakat dewasa ini, daging dan ikan misalnya, terasa sulit diraih.

Tak pelak, tahu dan tempe makin jadi pilihan mengingat harganya masih terjangkau sebagian besar masyarakat. Akan tetapi uniknya, meski sejak lama jadi lauk tradisional, bahan baku pembuatan tahu tempe yakni kacang kedelai, justru sebagian besar masih diimpor.

Itu sebabnya di era global saat ini, tahu dan tempe juga rentan terhadap situasi perdagangan dunia. Maklum dari sedikitnya 2,5 juta ton kebutuhan kedelai dewasa ini, lebih dari 70% atau sekitar 1,5 juta dipasok dari impor terutama asal AS sebagai produsen utama dunia. Sisanya dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri yang cenderung terus berkurang di tengah tren meningkatnya kebutuhan.

Bahkan hitungan terakhir Deptan menunjukkan tahun ini produksi kedelai anjlok lagi 10% dari tahun lalu yang mencapai 781.000 ton seiring terus menyusutnya areal tanam kedelai 10%.

Budi daya kedelai di dalam negeri memang memble. Selain butuh spesifikasi lahan tertentu, bertanam kedelai tidaklah mudah. Karena itu meski program pengembangan budi daya kedelai sudah lama dicanangkan Deptan tetapi bisa dibilang mandek jika tak ingin disebut gagal.

Kalau mau jujur, Indonesia memang harus tahu diri terhadap kedelai sebagai tanaman subtropis yang tidak akrab dengan tanah Bumi Pertiwi. Beda dengan kelapa sawit misalnya, yang bisa dibilang memang tanaman khas-nya Indonesia.

Tak heran budi daya kedelai terasa sulit dikembangkan di dalam negeri. Akibatnya volume impor kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring terus meningkatnya kebutuhan terutama untuk pembuatan tahu dan tempe.

Sayangnya, persaingan mendapatkan kedelai di pasar dunia dewasa ini semakin ketat. China yang juga salah satu produsen terbesar kedelai, ternyata juga mengimpor dari AS dalam jumlah tak kalah besar bagi kebutuhan dalam negerinya.

Sementara itu, keperluan kedelai bagi kepentingan pengembangan energi alternatif juga terus meningkat hingga menambah seru perebutan kedelai di pasaran dunia terutama asal AS yang bermutu lebih baik dibanding dengan pasokan sejumlah negara produsen di Amerika Selatan lainnya.

Repotnya areal tanaman kedelai di AS sendiri belakangan juga berkurang lantaran kalah bersaing dengan budi daya jagung yang lebih menggiurkan. Tak pelak kedelai makin susah dicari di pasaran dunia hingga fluktuasi harganya semakin sering terjadi yang cenderung terus meningkat.

Di sisi lain ongkos pengapalan dan pengiriman barang belakangan ini semakin tinggi di tengah maraknya perdagangan hasil tambang terutama batu bara di dunia internasional.

Impor kedelai makin terbebani fluktuasi kurs rupiah dan bea masuk 10% yang masih dikenakan pemerintah, padahal bea masuk di China dan negara Asean lainnya sudah 0%. Atas berbagai situasi ini, akhirnya kedelai sampai ke tangan para perajin tahu dan tempe dengan harga 'selangit'. Anehnya, di saat perajin menjerit dengan tingginya harga kedelai, Deptan jutsru berniat menaikkan lagi bea masuk dalam program perbaikan tata niaga kedelai. Tentu saja ini kabar buruk bagi perajin tahu tempe di tengah seretnya pasokan kedelai lokal.

Makin sempoyongan

Kini para perajin tahu tempe skala kecil menengah sempoyongan dihajar tingginya harga kedelai yang terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Hitungan para perajin di sejumlah daerah menunjukkan harga kedelai sudah melonjak dua kali lipat dari sekitar Rp2.700-Rp3.100 per kilogram menjadi Rp5.700 hingga Rp6.100 per kg saat ini.

Tak pelak usaha pengolahan tahu tempe di ambang kebangkrutan karena tak mampu lagi menjangkau harga bahan baku. "Apalagi saat ini harga kedelai cepat sekali berubah, dalam seminggu bisa tiga kali ganti harga. Sudah seperti harga saham saja," keluh Sutaryo, ketua Primkopti Jakarta Selatan.

Akibatnya, 1.150 perajin tahu anggotanya terpaksa mengurangi penyerapan bahan baku dari rata-rata 800 ton kedelai setiap bulannya. Berkurangnya volume produksi tentu mengancam tenaga kerja. "Kami coba bertahan, tapi sulit mengikuti fluktuasi harga kedelai. Karena itu dibutuhkan perhatian serius pemerintah jika tak ingin semua produsen tahu tempe gulung tikar," demikian Sutaryo.

Kondisi serupa dihadapi para perajin di seputar Depok dan Bogor yang terpaksa mengurangi ukuran tahu menyiasati harga kedelai yang sudah Rp6.200 per kg. "Keuntungan kami makin mepet, jika hal ini terus berlanjut, kami bisa bangkrut," ujar Anwar Ujang, perajin tahu di Tirtajaya, Sukmajaya, Depok.

Dia pun mengaku, 10 tahun bergelut dengan kedelai, baru kali ini harga kedelai setinggi langit. "Apa pemerintah tak punya perhatian?" katanya.

Keluhan senada disampaikan Tono, perajin tempe di pinggiran Bogor, yang mengaku hanya bisa pasrah atas anjloknya volume produksi akibat tingginya harga bahan baku.

Sementara itu, Dunaryo, perajin tempe yang juga mantan Ketua Kopti (1980-2000) Kampung Lio, Panmas, menyesalkan pemerintah yang mencabut subsidi kedelai sejak 1999. "Akibatnya para perajin tahu tempe ibarat menghadapi buah simalakama. Mau terus berproduksi, harga bahan baku terus naik. Sebaliknya jika mundur nafkah keluarga jadi berantakan."

Untuk bisa menyelamatkan para perajin tahu tempe, menurut Dunaryo, pemerintah harus kembali memberi subsidi harga bahan baku.

Sementara itu Puskopti Jawa Tengah yang membawahi lebih dari 27 Primkopti mencatat saat ini puluhan perajin tahu tempe sudah tak lagi beroperasi karena tak mampu lagi menghadapi tingginya harga bahan baku kedelai yang rata-rata Rp6.000 per kg. "Karena itu kami minta perhatian pemerintah untuk menekan harga kedelai," tutur Sulchan RM, ketua Puskopti Jateng.

Kini para perajin di berbagai daerah benar-benar terpukul atas meroketnya harga bahan baku yang sulit diimbangi dengan menaikkan harga jual tahu dan tempe. "Kalau jual tahu lebih mahal lagi, konsumen tentu lebih memilih daging," tutur Kusnendar, ketua Kopti Kejayan di Serang, Banten.

Kini para perajin tahu tempe di berbagai daerah menunggu langkah nyata pemerintah menyelamatkan usaha perekonomian rakyat tersebut, jika ingin mempertahankan tahu dan tempe sebagai lauk andalan asupan gizi minimal yang terjangkau masyarakat luas. (rustam.agus@bisnis.co.id)

sumber : bisnis.com


Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 0.000 (0 users)

Rate this news:



Online Pooling