Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,828.00 14,828.000
AUD 10,459.53 10,459.530
HKD 1,889.93 1,889.930
MYR 3,330.77 3,330.770
NZD 9,448.87 9,448.870
NOK 1,541.44 1,541.440
GBP 18,008.07 18,008.070
SGD 10,795.16 10,795.160
CHF 15,658.65 15,658.650
JPY 11,076.60 11,076.600
MMK 8.00 8.000
INR 186.24 186.240
KWD 48,258.58 48,258.580
PKR 67.23 67.230
PHP 266.93 266.930
LKR 40.93 40.930
THB 418.93 418.930
BND 10,779.21 10,779.210
EUR 15,209.76 15,209.760
CNY 2,198.52 2,198.520
KRW 11.36 11.360
Last update: 17/08/22 06:17:45
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Berkonsentrasi pada diagnosa sebelum mencoba menyelesaikan masalah ( 1 )
posted by admin on 14/11/06

Konsentrasi secara tepat dan diagnosa secara bijak dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah  pelik yang berada dalam tekanan waktu.

Menghindari penilaian secara cepat berkembang menjadi semakin sulit ketika tekanan yang muncul dari luar menuntut solusi yang cepat. Nyatanya tekanan yang timbul memberikan sinyal kepada pemikir kritis untuk berpikir secara berhati - hati selama kondisi memungkinkan. Bagi Gene Kranz, sinyal itu datang melalui suara yang keras dan jelas pada senja tanggal 13 April 1970 ketika astronot Apollo 13 bernama Jack Swigert berbicara melalui radio: ”Houston, kami mendapat masalah.” Di saat sebelumnya, sebuah dentuman keras yang menakutkan telah memperingatkan Swigert dan teman-teman astronotnya akan kemungkinan adanya masalah. Meskipun hanya terdengar seperti suara terbukanya sebuah katup yang tadinya melekat, ketiga astronot merasakan secara naluriah adanya kemungkinan ancaman yang lebih serius.

Di ruang pengendalian misi, George Bliss, ahli mesin, melihat ke monitornya dan mengutip pesan radio dari Swiget : ” Kita mendapat lebih dari sekedar masalah ! ” Oksigen di tangki dua, yang menampung separuh pasokan oksigen untuk keseluruhan misi, menunjukkan pembacaan meter di level nol. Sementara itu pengukur tekanan di tiga sel bahan bakar pencatu - daya dari pesawat ruang angkasa juga turun drastis mendekati nol. Pembacaan untuk satu - satunya sel yang masih tersisa juga menunjuk ke arah yang sama, dan Apollo 13 menuju ke jurang bencana.

Direktur penerbangan NASA Gene Kranz merasa bahwa dirinya sedang menghadapi satu dari situasi – situasi yang paling kompleks dan genting sepanjang sejarah. Selama empat hari yang panjang, dia menjadi pusat perhatian dunia, membuat satu demi satu pilihan penting. Pemikirannya dari menit ke menit menjadi pusat perhatian  orang - orang yang menonton siaran langsung televisi dan mendengarkan siaran radio yang dipancarluaskan ke seluruh dunia, karena nyawa ke tiga orang astronot Amerika tergantung kepada setiap hasil pemikirannya.

Setelah mengumpulkan informasi awal dengan cepat, Kranz mengesampingkan semua kemungkinan kesalahan data atau tidak berfungsinya lampu indikator. Dia sempat mempertimbangkan kemungkinan tertabraknya pesawat luar angkasa oleh meteor yang tersesat, namun mengesampingkan kemungkinan ini juga.

Situasi bertambah semakin parah seiring berjalannya waktu. Oksigen makin menipis dari tangki utama yang masih tersisa ; panel – panel elektris yang mengendalikan semua daya memudar seperti lampu senter yang perlahan - lahan meredup saat baterainya habis. Misi Apollo 13 dan nyawa tiga astronot di dalamnya akan berakhir tragis jika penyebab dari kesulitan mendadak ini tidak segera diketemukan oleh Kranz dan tim Houston di bawah kepemimpinannya.

Di bawah tekanan yang makin memuncak, Kranz secara pribadi mengumpulkan timnya dalam sebuah ruangan tertutup  tanpa jendela dan meminta setiap orang untuk ” tetap tenang ”. Mengetahui bahwa segala kesalahan dapat berakibat fatal, dia memperingatkan timnya agar tidak mendasarkan pemikiran mereka pada prasangka : ” Mari menyelesaikan masalah, tapi dengan tidak memperburuk masalah dengan cara menebak - nebak. ” Walaupun situasi demikian gawat, dia menolak untuk mengijinkan dirinya maupun timnya untuk secara terburu-buru memberikan penilaian, dan memperingatkan semua orang untuk berkonsentrasi pada  diagnosa permasalahan sebelum mencoba memberikan solusi. ” Mari kita coba lihat pertama -  tama apakah kita dapat menjabarkan apa yang sebenarnya  salah dari pesawat luar angkasa ini, ” dia berkata. ”Untuk beberapa hari berikutnya  yang belum pernah kita coba sebelumnya, saya ingin meyakinkan bahwa kita tahu apa yang kita lakukan ”.

Cepatnya penurunan oksigen dan catu daya listrik ditempatkan sebagai masalah pertama. Bagaimana caranya menghemat oksigen dan catu daya listrik di Modul Komando untuk mencukupi kebutuhan hari -hari berikutnya selama Modul tersebut memasuki bumi kembali. Tanpa tindakan yang segera diambil, kekurangan sumberdaya vital akan segera mengubah Modul tersebut menjadi sebuah kamar beku yang mematikan. Dengan berbekal ini sebagai dasar pemikiran, Kranz sekarang menguji penilaian terbaiknya : Ia memerintahkan para astronot untuk mematikan oksigen dan catu daya di Modul Komando dan meminta mereka untuk pindah ke Modul Darurat yang lebih kecil. Kemudian mereka diminta untuk menyekat pintu pemisah antara dua Modul tersebut.

Setelah pemindahan tersebut, Kranz ternyata harus melanjutkan diagnosanya, karena Kranz dikonfrontasikan oleh sejumlah permasalahan baru yang muncul akibat keputusan sebelumnya. Modul Darurat hanya dapat memasok Oksigen dan catu daya listrik selama dua hari dan hanya mampu menampung dua astronot. Sekarang Modul tersebut dipaksa membawa tiga orang yang harus mampu bertahan selama empat hari sebelum kembali ke bumi.

Segera setelah dia memahami permasalahan - permasalahan ini, Kranz memfokuskan timnya untuk menemukan cara untuk memaksa Modul Darurat supaya dapat bekerja melebihi seluruh spesifikasi desainnya dan memilih jalur terbang yang optimal untuk membawa Apollo 13 pulang ke bumi. Hal ini penting dilakukan sebelum Modul tersebut berhenti berfungsi. Kranz akhirnya memerintahkan para astronot untuk mematikan listrik di dalam Modul Darurat. Dengan ketiadaan catu daya listrik, suhu di dalam Modul turun drastis mendekati nol, dan para astronot berjuang untuk tetap terjaga dalam kedinginan yang menggigilkan tulang punggung. Mengetahui bahwa ia tidak dapat menolong agar tubuh para astronot tetap hangat, Kranz membiarkan mereka untuk mengatasi masalah itu semampunya.

Selanjutnya, Kranz berkonsentrasi untuk menemukan jalur penerbangan terbaik, rute terpendek dan paling aman untuk kembali ke bumi. Ia pertama-tama mempertimbangkan sebuah manuver beresiko yaitu dengan cara menembakkan motor roket utama yang terhubung dengan Modul Komando selama lima menit. Tindakan ini akan memperlambat kecepatan pesawat luar angkasa dalam perjalanannya ke Bulan dari 25.000 mil per jam menjadi tidak bergerak sama sekali, dan kemudian mendorongnya kembali menuju bumi. Jika berhasil, manuver radikal ini dapat mengembalikan Apollo 13 ke bumi sebelum pasokan listrik yang masih tersisa habis, namun ini melibatkan resiko yang sangat besar. Getaran dari pengapian motor roket dengan cara ini dapat menghancurkan pesawat hingga berkeping-keping.

Setelah menimbang resiko terhadap keuntungan masing -masing, Kranz menghapuskan opsi pertama. Sebagai alternatif,  ia menentukan sebuah manuver yang memanfaatkan  gravitasi bulan untuk mengayun pesawat pulang ke bumi. Taktik ini akan mengirim Apollo 13 menjauhi bumi karena pesawat harus memutari bulan satu kali dan kemudian pesawat akan diayun  kembali pada jalur penerbangan pulang. Pendekatan ini, walaupun beresiko lebih kecil secara fisik, tetapi menghadapkan para astronot kepada kemungkinan yang paling nyata yaitu kekurangan catu daya listrik sebelum mencapai bumi. Namun Kranz menganggap opsi ini sebagai yang terbaik.

Para astronot pada akhirnya memasuki kembali Modul Komando, menghidupkan oksigen dan catu daya-nya yang berada dalam level kritis, memisahkan Module ini dari Modul Darurat, dan bersiap untuk memasuki atmosfer bumi.

Kranz, dalam peranannya, melanjutkan diagnosa permasalahan hingga titik paling akhir. Keputusan terakhirnya yang sangat emosional dilakukan ketika Apollo 13 bergerak mendekati bumi pada jalur lintasan yang tidak tepat. Memasuki atmosfer kembali dengan lintasan yang terlalu curam akan membakar pesawat luar angkasa dalam bola api. Jika Apollo 13 memasuki jalur lintasan  yang terlalu landai, pesawat akan terpental keluar dari atmosfer bumi dan akan tertelan di ruang angkasa yang maha luas. Dalam kondisi kurangnya informasi yang diperlukan dan perangkat yang diperlukan untuk menciptakan solusi yang lebih baik, Kranz membuat keputusan terakhirnya dengan penuh pertimbangan dan kehati - hatian. Ia memerintahkan staff pengendali penerbangan untuk tidak memberitahukan pada para astronot akan bahaya ini dan Kranz menahan nafasnya saat Apollo 13 masuk ke dalam atmosfer bumi. Komunikasi radio dengan Modul Komando sempat terputus selama proses masuknya  kembali pesawat luar angkasa ke atmosfer bumi, dan Kranz hanya dapat menunggu untuk mendengar apakah para astronot selamat.

Pada hari Jumat, 17 April, Apollo 13 tercebur dengan selamat ke dalam Samudera Pasifik dalam jarak pandang kapal penyelamatnya, USS Iwo Jima. Pemimpin misi Jim Lovell berbalik menghadap kedua rekan astronotnya, Jack Swigert dan Fred Haise, dan berkata, ” Rekan - rekan, kita sudah sampai di bumi. Di sisi yang lain Gene Kranz, menyulut sebuah cerutu besar di ruang pengendali misi dan tersenyum penuh kebahagiaan yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang menerima tanggung jawab penuh akan keputusan hidup dan mati. Kegigihannya untuk berkonsentrasi pada diagnosa terlebih dahulu sebelum menentukan solusi, membuktikan bahwa tak diragukan lagi Gene Kranz  benar-benar ” Tahu apa yang dilakukannya ”.

Ya, pemikiran yang tajam memerlukan konsentrasi, tapi konsentrasi terhadap apa? Baik konsentrasi pada informasi yang salah, atau konsentrasi pada informasi yang benar di waktu yang salah, dapat menyebabkan banyak masalah sama seperti jika tidak berkonsentrasi sama sekali. Saat melihat kembali pada beberapa kesalahan kita yang terburuk, bertanyalah, ”Mengapa saya tidak dapat berkonsentrasi pada hal itu?. Kita sering dapat melihat bahwa ” hal itu ” adalah lebih berupa ” diagnosa ” daripada ”pengobatan”.

 
By Charles W. Mc Coy, Jr. author of the book : " Why didn't I think of That ? "


Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 3.000 (3 users)

Rate this news:



Online Pooling