Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,865.00 14,865.000
AUD 10,236.34 10,236.340
HKD 1,894.37 1,894.370
MYR 3,375.83 3,375.830
NZD 9,275.76 9,275.760
NOK 1,505.48 1,505.480
GBP 18,089.52 18,089.520
SGD 10,687.17 10,687.170
CHF 15,533.89 15,533.890
JPY 10,944.31 10,944.310
MMK 8.08 8.080
INR 188.60 188.600
KWD 48,464.03 48,464.030
PKR 72.29 72.290
PHP 270.59 270.590
LKR 41.26 41.260
THB 420.86 420.860
BND 10,700.27 10,700.270
EUR 15,591.30 15,591.300
CNY 2,219.01 2,219.010
KRW 11.50 11.500
Last update: 06/07/22 12:52:32
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Hati-Hati Dengan Intuisi Yang Salah
posted by admin on 02/11/06

Tidak adanya penjelasan rasional merupakan kekuatan utama dan sekaligus kelemahan utama intuisi. Bagaimana mengeliminir kelemahan tersebut?

Intuisi jelas merupakan alat berpikir yang hebat. Tetapi nyatanya intuisi dapat juga digunakan secara tidak tepat. Hal ini terjadi dengan Lee Iacocca saat dia mengalami masa sulit ketika berhubungan dengan Henry Ford II, seorang pemimpin dengan karakter yang sulit diprediksi.

Sebagai Presiden dari Ford Motor Company, Iacocca telah memperoleh reputasi sebagai salah satu eksekutif terhebat di industri otomotif. Di bawah kepemimpinannya, Ford mencapai keuntungan sebesar $3,5 miliar selama dua tahun terakhir, sebuah jumlah yang sangat besar pada saat itu. Selama hampir 3 tahun Iacocca sudah merasa curiga bahwa Henry Ford ingin memecatnya. Tetapi Iacocca secara intuitif yakin Dewan Direksi tidak akan membiarkan Ford menyia-nyiakan dirinya yang merupakan salah satu dari asset perusahaan yang paling berharga. Untuk sekali ini, tetapi, intuisi Iacocca yang biasanya berfungsi dengan sempurna ternyata salah.

Iacocca telah menjabat sebagai Presiden dari Ford Motor Company selama 8 tahun, tepatnya 24 tahun setelah dia bergabung dengan perusahaan tersebut langsung sejak dia lulus dari universitas. Memimpin lebih dari 400 ribu karyawan dan dengan angka penjualan miliaran dolar, dia bertanggung jawab langsung kepada Chairman dan CEO, Henry Ford II, cucu dari pendiri perusahaan itu.

Di bawah kepemimpinan Iacocca, Ford Motor Company memproduksi mobil berukuran lebih kecil dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien. Hal ini mengundang ketidaksetujuan Ford yang menganggap mobil kecil akan menghasilkan keuntungan kecil. Tetapi Iacocca jalan terus karena dia mendapat dukungan dari Hal Sperlich, salah satu karyawan kepercayaannya yang terbaik dan paling handal. Perusahaan berhasil meluncurkan Ford Fiesta berukuran kecil di Eropa. Iacocca merencanakan untuk meluncurkan produk ini ke pasar Amerika. Henry menolak ide tersebut. Walaupun demikian, penjualan Ford tetap meningkat di pertengahan 70-an karena sebagian besar disumbang oleh hasil keefektifan kepemimpinan Iacocca dan tim manajemennya.

Iacocca sendiri merasakan adanya potensi permasalahan seperti api dalam sekam. Kesuksesannya sebagai presiden menimbulkan ketakutan Henry Ford II dimana suatu hari bisa saja dia akan kehilangan kontrol perusahaan yang diwariskan dari kakeknya. Pada satu titik yang hanya diketahui oleh Ford sendiri, dia memutuskan untuk menghilangkan ancaman bagi dirinya dengan cara memarginalkan Iacocca dan mempermalukannya sehingga Iacocca diharapkan akan mengundurkan diri. Untuk memecat Iacocca secara terbuka akan membutuhkan persetujuan Dewan Direksi. Dengan cara ini Ford dapat memecat Iacocca tanpa perlu meminta persetujuan Dewan Direksi. Iacocca tidak menyerah, dia menolak untuk mundur, karena yakin Dewan Direksi yang antara lain beranggotakan 9 anggota independen dari luar, akan mendukungnya.

Tanpa sepengetahuan Iacocca, Ford mengadakan meeting khusus dengan para eksekutif puncaknya untuk menghapus sejumlah program pengembangan produk untuk mobil kecil dan teknologi penggerak roda depan yang ekonomis bahan bakar. Seperti yang ditulis Iacocca kemudian di buku autobiografinya: ”Henry terus menungguku sampai aku berada beberapa ribu mil dari kantor pusat untuk mengadakan meeting ini dan mencuri kekuasaan dan tanggung jawabku. Dia juga terus menentang apa yang aku yakini”. Kemudian di tahun yang sama Ford melakukan investigasi yang memalukan dan menghabiskan $ 2 juta dengan tujuan untuk membuka borok Iacocca sehingga dapat dijadikan alasan untuk memecatnya. Sementara investigasi tersebut gagal membuahkan hasil, para eksekutif lain menjadi cemas sehingga lebih memikirkan keselamatan karirnya daripada berkonsentrasi penuh di pekerjaannya. Perusahaan mengalami kerugian besar akibat hal ini.

Melakukan kilas balik beberapa tahun kemudian, Iacocca sadar “ Harusnya saat itu saya mengundurkan diri” Tapi dia tidak melakukannya. Kenapa?

Intuisi. Seperti kebanyakan eksekutif puncak lainnya, insting Iacocca telah banyak membantunya dalam urusan korporasi. Dia tahu dengan benar sejarah panjang Henry Ford yang suka memecat karyawannya yang dianggap mengancam prestise atau kekuasaannya. Tapi Iacocca menganggap dia adalah kekecualian. “ Aku menggangap diriku lebih pintar dan beruntung dari orang lain. Aku tidak berpikir hal itu akan terjadi pada diriku”.

Iacocca sendiri memiliki kartu as, yaitu catatan suksesnya yang tidak dapat disangkal oleh atasannya, dan Iacocca memperoleh dukungan dan kepercayaan dari orang-orang di berbagai level, termasuk para anggota utama dari Dewan Direksi. Saudara Henry Ford, Bill, yang memiliki lebih banyak saham perusahaan daripada Henry, secara pribadi berkata kepada Iacocca bahwa dia tidak akan tinggal diam jika Henry coba memecatnya.

Akhirnya Ford memutuskan untuk melakukan pendekatan secara langsung. Ford secara pribadi mengadakan pertemuan dengan sembilan direksi independen dan menyatakan keinginannya untuk memecat Iacocca. Karena Ford secara efektif mengontrol seluruh direktur internal di perusahaan maka hanya direksi independen yang dapat menentangnya. Direksi independen coba menenangkan Ford. Awalnya Ford tampak setuju untuk mengurungkan niatnya.

Tetapi sebulan kemudian Ford kembali dengan ancamannya. Di depan direksi independen Ford mengeluarkan senjata pamungkasnya ”Aku akan pecat Iacocca. Pilih dia atau aku. Kalian punya 20 menit untuk menentukan keputusan kalian”. Setelah itu segala bentuk tentangan roboh, tidak seorangpun berani menentangnya.

Esok harinya Ford memanggil Iacocca ke kantornya ”Kita telah bekerjasama dengan baik, tapi menurutku kamu sebaiknya pergi. Ini akan menjadi yang terbaik bagi perusahaan”. Ford mengatakan itu tanpa melihat mata Iacocca. Ketika Iacocca mendesak apa alasannya, Ford berteriak, ”Ini sifatnya pribadi, dan aku tidak bisa jelaskan lagi padamu. Ini hanyalah satu dari banyak hal!”. Bill Ford, satu-satunya orang lain yang hadir di ruangan, menemani Iacocca keluar ruangan. ” Hal ini harusnya tidak terjadi, dia kejam” kata Bill. ” terima kasih Bill” jawab Iacocca, ” Tetapi saya mati dan kalian berdua masih hidup!”

Berikutnya Iacocca menemukan karirnya benar-benar telah tamat. Teman-temannya yang sangat dipercaya akan mendukungnya nyatanya menarik dukungannya. Mereka semua takut dipecat. ” Kejadian tersebut memberikan shock yang terhebat sepanjang hidupku” kata Iacocca. Ford telah berhasil dengan mudahnya mengintimidasi dan mengalahkan seluruh oposisi yang menghadangnya. Masih dalam keadaan bingung, Iacocca bertanya kepada dirinya, “Kenapa aku tidak merasakan hal itu?”. Iacocca telah mencampuradukkan antara intuisi yang bijak dengan intuisi yang palsu, yaitu kepercayaan diri yang tidak pada tempatnya.

Intuisi yang ril dan palsu dapat membuat bingung bahkan para pemikir hebat seperti misalnya Lee Iacocca. Keduanya bermuara dari pikiran bawah sadar dan keduanya juga mengambil informasi dan pengalaman yang disimpan di pikiran bawah sadar. Sama seperti berpikir secara sadar, pola pikir di bawah sadar dapat menghasilkan hasil yang valid maupun tidak valid. Karena itu, sama seperti berpikir secara sadar, kita harus mentes validitas pemikiran yang dihasilkan bawah sadar. Sehubungan dengan intuisi, tetapi, kita harus sangat berhati-hati karena kita tidak dapat secara objektif memonitor proses munculnya intuisi yang dihasilkan pikiran bawah sadar.

Untuk mentes validitas saat munculnya intuisi dari dalam diri kita mengenai sesuatu hal, cobalah bertanya menggunakan ”Kenapa?”. Kenapa saya merasa ada sesuatu yang salah disini? Mengapa saya begitu yakin akan hal ini? Mengapa saya merasakan begitu kuatnya dorongan intuisi saya? Selidikilah lebih lanjut, walaupun pada awalnya jawabannya tampak melenceng.

Karena sifatnya yang tidak membutuhkan penjelasan rasional, intuisi menghasilkan ide dan solusi dimana rasio tidak mampu untuk menghasilkannya. Tidak adanya penjelasan rasional, karenanya merupakan kekuatan utama dan sekaligus kelemahan utama intuisi. Pada saat mempercayai kekuatan intuisi, kita harus menyadari kelemahannya dan memastikan kita secara sadar menerapkan rasio untuk mentesnya. Dengan bertanya menggunakan ” Kenapa?”, kita dipaksa untuk menggunakan rasio karena akan melibatkan unsur-unsur seperti kejelasan, ketepatan, kekomprehensifan, sensibilitas, dan kejujuran intelektual.

” Kenapa aku merasakan munculnya keragu-raguan ini? Apakah keragu-raguanku didukung oleh alasan yang masuk akal, atau apakah aku hanya takut terhadap hal yang tidak diketahui?”

” Kenapa aku begitu merasa yakin akan hal ini? Apakah keyakinanku didukung oleh alasan yang objektif atau apakah keyakinanku tidak realistis?”

” Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan keputusanku ini? Apakah aku kehilangan sesuatu atau aku merasa tidak nyaman karena keputusan ini akan mendorongku keluar dari zona nyamanku?”

”Kenapa aku tiba-tiba merasa keputusanku tampak sangat benar? Apakah aku menerima apa saja yang muncul pertama kali dari pikiranku karena aku terlalu lelah atau tidak sabar untuk melanjutkan pemikiranku sampai aku menemukan jawaban yang terbaik?”

Walaupun nyatanya intuisi dapat dengan tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas, seorang pemikir tajam akan menunda pengambilan keputusan berdasarkan intuisi sampai mereka selesai melakukan validasi terhadap intuisi tersebut dengan menggunakan standar yang sama seperti yang mereka terapkan saat berpikir secara sadar.

Mereka tahu perasaan yang muncul seiring dengan munculnya intuisi ril dan yakin akan kebenarannya walaupun rasio sendiri tidak dapat menjelaskannya. Tetapi mereka tetap melakukan validasi terhadap intuisi tersebut sebelum menjadikannya sebagai dasar pengambilan keputusan.

Intuisi yang salah akan mendorong kita untuk melompat dengan segera kepada kesimpulan yang salah.

Oleh Charles W. McCoy, Jr., pengarang buku : Why Didn’t I Think Of That?

Previous News     |      Next News

Current Rating: 3.000 (1 users)

Rate this news:



Online Pooling