Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,301.00 14,301.000
AUD 10,880.05 10,880.050
HKD 1,842.19 1,842.190
MYR 3,466.52 3,466.520
NZD 10,084.07 10,084.070
NOK 1,689.15 1,689.150
GBP 19,996.81 19,996.810
SGD 10,707.40 10,707.400
CHF 15,730.03 15,730.030
JPY 12,970.54 12,970.540
MMK 8.99 8.990
INR 194.38 194.380
KWD 47,723.22 47,723.220
PKR 91.12 91.120
PHP 296.91 296.910
LKR 72.06 72.060
THB 457.01 457.010
BND 10,777.56 10,777.560
EUR 17,164.39 17,164.390
CNY 2,222.56 2,222.560
KRW 12.74 12.740
Last update: 23/06/21 13:59:54
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
InfoBank Multifinance Award 2006 untuk Reksaarta Pertiwi
posted by admin on 30/10/06

Reksaarta Pertiwi menerima InfoBank Multifinance Award 2006 atas Kinerja Keuangan Sangat Bagus Selama Tahun 2005

Multifinance Kelas Kecil Banyak Kejutan di Sepuluh Terbaik

InfoBankNews.com, Jumlah pemain perusahaan pembiayaan di kelas kecil atau aset di bawah Rp100 miliar masih yang terbanyak. Di kelompok 10 besar di kelas ini terjadi banyak kejutan. Siapa saja mereka? Tofik Iskandar

KINERJA perusahaan pembiayaan (multifinance) selama 2005 rata -rata menunjukkan peningkatan. Sayang, mereka masih menghadapi banyak kendala, seperti suku bunga tinggi sejalan dengan pergerakan suku bunga perbankan. Implikasinya jelas, biaya dana perusahaan pembiayaan mahal karena sebagian besar berasal dari pinjaman ke bank.

Selain itu, menurunnya daya beli masyarakat akibat inflasi yang tinggi, naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), dan naiknya pajak pertambahan nilai (PPN) bea masuk (BM). Hal ini ditengarai menjadi faktor yang memengaruhi turunnya permintaan kredit kepada perusahaan pembiayaan, terutama untuk pembiayaan konsumen (consumer finance). Terlepas dari permasalahan tersebut, yang jelas, industri pembiayaan masih punya potensi mengembangkan pasarnya.

Nah, bagaimana kondisi perusahaan pembiayaan dengan aset di bawah Rp100 miliar? Menurut data Biro Riset InfoBank (birI), ternyata perusahaan pembiayaan di kelas kecil ini masih yang terbanyak, yaitu 62 perusahaan. Dari sebanyak itu, 17 perusahaan mendapat predikat “sangat bagus”, 19 berpredikat “bagus”, 14 berpredikat “cukup bagus”, dan 12 perusahaan”, tidak bagus” dalam “Rating 130 Multifinance Versi InfoBank 2006”, khususnya di kelas kecil.

Terbilang banyak perusahaan yang mendapat predikat “tidak bagus”. Ini artinya, Departemen Keuangan (Depkeu) tidak bisa tinggal diam. Mereka harus segera memberikan treatment khusus untuk perusahaan-perusahaan pembiayaan yang mengalami radang keuangan” ini. Sebab, kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, tak menutup kemungkinan bisa menimbulkan gejolak, yang akan mengganggu industri multifinance.

Perusahaan pembiayaan yang sudah bagus kinerja keuangannya tentu tidak perlu mendapat treatment khusus dari Depkeu. Mereka hanya perlu semacam insentif untuk memotivasi meningkatkan kinerja keuangannya.

Perusahaan pembiayaan mana saja yang masuk 10 terbaik dalam “Rating 130 Multifinance Versi InfoBank 2006”, khususnya di kelas kecil? Yang jelas, terjadi banyak kejutan di jajaran 10 terbaik di kelas kecil ini. Ada beberapa perusahaan yang pada rating tahun lalu hanya memperoleh predikat “tidak bagus”, “cukup bagus”, dan “bagus”, dalam rating kali ini memperoleh predikat “sangat bagus”. Mereka adalah Otomas Multifinance, Murni Upaya Raya Nilai Inti Finance, Kembang 88 Multifinance, dan Harvesia Aktiva Finance. Ada juga yang tahun lalu masuk kelompok terbaik, dalam rating kali ini berhasil menaikkan posisinya. Mereka adalah Artha Prima Finance, Arthaasia Finance, dan Koperasi Pembiayaan Indonesia.

Yang menarik adalah Reksaarta Pertiwi. Tahun lalu, perusahaan ini tidak di-rating karena terlambat memaparkan laporan keuangannya kepada publik, tapi kali ini mereka justru tampil menjadi yang terbaik dengan total nilai 99,24.

Potret kinerja keuangan Reksaarta Pertiwi pada 2005 memang sangat ciamik. Sebanyak 12 indikator kinerja keuangannya menunjukkan bahwa perusahaan pembiayaan yang fokus pada pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha (leasing) ini sehat, kuat, dan efisien. Perusahaan ini sehat dari aset total, pembiayaan, modal sendiri, dan laba bersih, yang masing-masing mengalami pertumbuhan signifikan selama 2005.

Perusahaan ini juga kuat dalam hal pembiayaan. Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan terhadap aset total yang mencapai 94,37%. Artinya, hampir seluruh asetnya diberdayakan sebagai aset produktif. Selain itu, perusahaan ini efisien. Itu terefleksi dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) yang hanya 24,69% atau terkecil dari 10 terbaik di kelas kecil.

Bagaimana dengan Arthaasia Finance yang menempati tangga keempat dalam rating kali ini? Secara umum, kinerja keuangannya selama 2005 meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pembiayaan perusahaan ini pada 2005 mengalami pertumbuhan, yaitu menjadi 26,73% dari sebelumnya 5,94%. Sayang, pertumbuhan pembiayaan tidak diikuti porsi pembiayaan pada struktur aset. Porsi pembiayaan pada struktur aset justru menurun tipis dari 39,49% pada 2004 menjadi 38,21% pada akhir 2005.

Di sisi lain, rasio kewajiban terhadap aset total meningkat menjadi 35,34%. Hal ini disebabkan adanya peningkatan pada akun kewajibannya. Sementara, rasio pembiayaan terhadap kewajiban menurun dari 159,19% menjadi 108,13%.

Ini artinya, utang perusahaan yang fokus pada bisnis used car dengan segmen pasar produk kendaraan yang mempunyai nilai tambah atau produktif ini selama 2005 ada yang “terpaksa” mengendap di akun kas dan setara kas. Terbukti, pertumbuhan kas dan setara kas pada 2005 sebesar 80,88% atau lebih besar dari pertumbuhan pembiayaan yang sebesar 26,73%. Selain itu, porsinya dari aset total juga meningkat menjadi 41,11%.

Hal ini bisa jadi disebabkan dua hal. Satu, karena daya beli atau daya cicil masyarakat yang tergerus akibat gejolak perekonomian Indonesia selama 2005. Akhirnya, Arthaasia Finance, yang kini sudah memiliki 25 kantor cabang, menaikkan uang muka demi menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam pembiayaannya.

“Dengan kondisi perekonomian seperti saat ini, tadinya, kami memasang uang muka hanya 20% saja. Tapi, aturan itu kami ubah menjadi 30% supaya nasabah bisa lebih mampu membayar cicilan dan kami sendiri bisa mengembalikan uang ke bank lebih mudah lagi,” ujar Salman Yusuf, Direktur Utama Arthaasia Finance, kepada Atik Darmawati dari InfoBank, medio Juli lalu.

Dua, uang muka yang naik otomatis akan berpengaruh terhadap pemberian pembiayaan—pemberian pembiayaan sulit. Sehingga, wajar akun kas dan setara kas Arthaasia Finance pada 2005 meningkat dari tahun sebelumnya. Tapi, walau dalam kondisi demikian, laba bersih Arthaasia Finance pada 2005 masih tumbuh sebesar 10,24%. Bagaimana dengan laba bersih yang akan diraih pada tahun ini?

“Tahun ini banyak perusahaan yang bersikap hati-hati. Tapi, kami yakin laba bersih Arthaasia Finance akan tumbuh sebesar 12%, bahkan mungkin bisa mencapai 16%. Karena, semester pertama tahun ini kurang lebih 95% dari target sudah tercapai,” ungkap Salman bersemangat.

Hal senada diungkapkan Chandra Yahya, Direktur Utama Kembang 88 Multifinance. Menurut Chandra, kiat sukses yang diterapkan perusahaannya sehingga bisa bertahan karena menerapkan prinsip kehati-hatian dalam operasionalnya. Karena itu, Chandra tidak terlalu memaksakan diri dalam menargetkan perolehan laba bersih pada 2006 ini. “Untuk saat ini, mencapai pertumbuhan laba bersih 10% lebih saja itu sudah bagus,” ujar Chandra kepada InfoBank, akhir Juli lalu.

Mencermati beberapa pendapat pelaku bisnis pembiayaan dan melihat kondisi ekonomi makro yang cenderung kondusif ke depannya, industri perusahaan pembiayaan diperkirakan akan tetap tumbuh pada tahun ini, meski melamban dari tahun sebelumnya. Apalagi, Departemen Keuangan (Depkeu) pada September 2006 berencana mengeluarkan kebijakan penguatan industri lembaga pembiayaan yang tertuang dalam Paket Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK). Cuma yang menjadi pertanyaan, apakah PKSK ini mampu menertibkan dan menyehatkan perusahaan pembiayaan? Kita lihat saja.

Previous News     |      Next News

Current Rating: 1.286 (7 users)

Rate this news:



Online Pooling