Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,865.00 14,865.000
AUD 10,236.34 10,236.340
HKD 1,894.37 1,894.370
MYR 3,375.83 3,375.830
NZD 9,275.76 9,275.760
NOK 1,505.48 1,505.480
GBP 18,089.52 18,089.520
SGD 10,687.17 10,687.170
CHF 15,533.89 15,533.890
JPY 10,944.31 10,944.310
MMK 8.08 8.080
INR 188.60 188.600
KWD 48,464.03 48,464.030
PKR 72.29 72.290
PHP 270.59 270.590
LKR 41.26 41.260
THB 420.86 420.860
BND 10,700.27 10,700.270
EUR 15,591.30 15,591.300
CNY 2,219.01 2,219.010
KRW 11.50 11.500
Last update: 06/07/22 12:52:32
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Harapkan Yang Tidak Diharapkan
posted by admin on 20/10/06

Kebanyakan dari kita biasanya membuat rencana untuk hal-hal yang diketahui atau diharapkan dan membiarkan hal yang tidak diketahui dan tidak diharapkan berjalan dengan sendirinya.

 Admiral Raymond Spruance terbang ke Wellington, Selandia Baru di pertengahan tahun 1943 dengan membawa perintah rahasia sangat penting yaitu melakukan serangan yang akan membawa Jepang kepada kekalahan perang. Dalam rapat rahasia dengan penjagaan sangat ketat  yang dihadiri oleh  para komandan dari korps marinir, dia membeberkan rencananya untuk menyerang Jepang melalui Pasifik Tengah, dimulai dengan serangan ke sebuah kepulauan karang kecil bernama Tarawa. Sementara tidak ada seorangpun, kecuali Spruance, yang pernah mendengar nama Tarawa, nyatanya operasi militer tersebut kemudian berkembang menjadi pertempuran tiga hari paling berdarah dalam sejarah korps marinir AS.

 Kepulauan karang Tarawa terdiri dari beberapa pulau kecil yang tersusun mengelilingi sebuah danau kecil di tengahnya. Salah satu pulau terpenting adalah Betio, merupakan sebuah hamparan daratan sempit sepanjang 1 mil. Ukurannya kurang lebih sebesar tempat parkir gedung Pentagon. Di pulau ini Jepang telah membangun sebuah landasan pacu penting yang bernilai strategis. Pulau kecil ini dikelilingi oleh batu karang koral datar, menjorok keluar sejauh 900 meter  dari garis pantai. Batu karang ini telah dilengkapi dengan  500 penyangga senapan, bunker yang telah diperkuat, dan kotak-kotak obat. Betio yang dijaga oleh 4000 marinir Jepang dan  siap setiap saat untuk berperang merupakan pusat konsentrasi persenjataan Jepang terbesar di Pasifik.

 Tugas yang maha berat untuk menjabarkan bagaimana menguasai pulau tersebut berada di pundak seorang staf prajurit, Letnan Kolonel  David Shoup. Shoup yakin  operasi ini akan  berhasil jika pasukan  melakukan pendaratan di titik terlemah  pertahanan Jepang. Jika tidak, pasukan Jepang akan menjagal pasukan AS di perbatasan perairan. Pantai yang paling lemah penjagaannya adalah pantai yang menghadap danau bagian dalam yang berlokasi di pusat kepulauan karang tersebut. Danau itu sendiri hanya memiliki jalan masuk yang kecil dan karenanya tidak memungkinkan lewatnya kapal perang berukuran besar. Pasukan Jepang percaya setiap serangan yang datang haruslah dari sisi yang menghadap ke laut, dimana mereka telah menanam ribuan ranjau dan penghalang-penghalang baja untuk menahan serangan yang datang.

 Shoup kemudian merencanakan sebuah serangan kejutan ke arah danau tersebut. Tetapi dia sadar serangan tersebut membawa resiko besar terutama di daerah  batu karang koral datar yang memanjang sejauh setengah mil dari garis pantai. Untuk mendarat di pantai yang sulit dijamah, marinir biasanya menggunakan perahu kecil bernama Higgins yang digerakkan oleh baling-baling dan memiliki dasar perahu yang datar. Higgins yang terbuat dari kayu ini dapat beroperasi di air dengan ketinggian minimum 1,2 meter.

 “Berapa kedalaman air di sekitar batu karang tersebut?” tanya Shoup.   

 Tidak seorangpun tahu secara pasti. Chart hidrografis yang mereka miliki dibuat di tahun 1848. Laporan inteligen menunjukkan pada saat kondisi air pasang, ketinggian air akan memungkinkan pelayaran menggunakan Higgins. Tetapi seorang nelayan setempat mengatakan pasang di wilayah Tarawa kadang-kadang sulit diprediksi.

 Shroup bertanya lagi, “ Apa yang akan terjadi jika yang tidak diharapkan terjadi, dan pasang tidak menaikkan permukaan air seperti yang diharapkan?”. Jawabnya adalah potensi bencana dimana pasukan marinir terpaksa harus meninggalkan perahunya dan berjalan sejauh 900 meter sepanjang batu karang datar dengan ketinggian air setinggi perut orang dewasa dan didepan mereka menghadang tembakan mematikan senapan mesin tentara Jepang. Sementara kemungkinan kegagalan air pasang adalah kecil, Shoup mengantisipasi yang tidak diharapkan dan mencari cara inovatif untuk mengangkut pasukannya menyeberangi karang di perairan dangkal tersebut. Dia memerlukan sebuah LVT-1 Alligator, sebuah kendaraan amfibi kecil yang digerakkan rantai (seperti rantai yang menggerakkan tank atau buldozer). Alligator awalnya didisain untuk memenuhi kebutuhan pensuplaian tambahan untuk kapal ferry. Alligator dapat melakukan navigasi di perairan dalam atau  merayap di batu karang koral.

 Shoup sendiri memiliki Alligator yang hanya cukup untuk membawa tiga gelombang pasukan, sehingga mayoritas pasukan lainnya akan mengikuti di belakang menggunakan Higgins. Jika yang tidak diharapkan terjadi dan permukaan air tidak cukup tinggi untuk dilewati Higgins, dia merencanakan Alligator untuk berbalik arah dari pantai ke wilayah karang bagian luar untuk mengangkut lebih banyak pasukan yang akan meninggalkan Higgins yang tertambat di perairan dangkal. Alligator kemudian akan kembali ke pantai.  

 Shoup menyelesaikan rencananya dan Divisi Marinir kedua kemudian berangkat menggunakan kapal menjuju Tarawa. Di perjalanan, Kolonel yang seharusnya memimpin penyerangan mengalami gangguan mental yang akut sehingga jenderal komando mempromosikan David Shoup sebagai Kolonel untuk memimpin pendaratan pasukan marinir.

 Ketika pasukan mendarat di Tarawa saat subuh tanggal 23 November, 1943, pasukan Jepang sangat terkejut ketika mereka melihat kendaraan-kendaraan berantai berlapis baja yang memuat pasukan merayap naik ke permukaan danau dan bergerak menuju pantai. Tentara Jepang segera mengatur posisi, membuka tembakan dan menghancurkan sejumlah besar Alligators berbobot ringan yang mendekat.  

 Marinir yang pertama mendarat di pantai pada awalnya terdesak akibat tembakan  intens dari belakang dinding benteng buatan setinggi 1 meter yang terbuat dari tumpukan batang pohon kelapa. Kelompok pasukan utama, yang diperlukan untuk memberikan dukungan terhadap tiga gelombang pasukan pertama yang terjebak di pantai, bergerak menggunakan kapal Higgins menembus kedalaman air menuju wilayah batu karang.

 Tiba-tiba kapal-kapal Higgins tersebut kandas di pinggiran luar wilayah batu karang. Seperti yang telah diperingatkan oleh sang nelayan sebelumnya, secara tidak terduga pasang tiba-tiba surut, mengakibatkan tentara marinir terekspos terhadap tembakan sementara mereka mencoba untuk bergerak sejauh setengah mil ke arah pantai. David Shoup termasuk diantara yang terperangkap di wilayah batu karang tersebut, mulai berjalan ke arah pantai, dan walaupun dua kali terluka , akhirnya berhasil mencapai pantai. Banyak rekan-rekannya yang gugur dalam perjalanan ini.

 Dari posisinya di permukaan pantai, Shoup hanya dapat mengamati dengan pasrah rencana daruratnya untuk mengangkut pasukan melewati wilayah karang menggunakan Alligator mengalami kegagalan. Terlalu sedikit Alligator yang selamat dari gelombang serangan pertama yang dilakukan dan jumlah Alligator yang tersisa tidak cukup kuat untuk melancarkan operasi pengangkutan prajurit. Untuk melengkapinya,  sepanjang malam dilakukan pengiriman pasukan tambahan menggunakan kapal Higgins. Esok harinya sejumlah besar pasukan marinir yang mengalami mabuk laut dan sangat kelelahan, dalam upayanya melakukan penyeberangan melalui wilayah batu karang koral, menjadi korban keganasan tembakan tentara Jepang yang tiada hentinya. Para marinir yang berada di pantai dan menunggu bala bantuan, mengamati penjagalan yang menjatuhkan moral tersebut.  Melihat neraka tersebut, Shoup mengirim pesan radio kepada jenderal komandonya ” Situasi dalam keadaan tidak baik di pantai.... Situasi masih tidak pasti”, ungkapan ini merupakan ungkapan marinir pemberani yang sebenarnya menyatakan ”jika sesuatu hal tidak terjadi untuk membalikkan semua ini, kita semua akan mati”.

 Seperti telah sering terjadi pada kondisi genting seperti ini di dalam sejarah Korps Marinir, sesuatu ternyata terjadi untuk membalikkan semua ini. Hal ini muncul akibat tindakan berani  yang muncul pada kondisi hidup-mati seseorang. Melalui tindakan yang sangat berani yang sulit dijabarkan, para marinir merangkak melewati benteng pertahanan, secara bertahap maju masuk ke Betio, dan pada akhirnya menguasi pulau tersebut. Banyak dari marinir yang berhasil masuk ke Betio pada awalnya, mereka mendarat menggunakan Alligator yang merupakan ide dari Shoup. Tidak seorangpun tentara Jepang yang menyerah; semuanya bertarung sampai titik darah penghabisan.

 Setelah peperangan selesai, presiden Franklin Roosevelt menganugerahi Medali Kehormatan Kongres kepada David Shoup. Tanpa Alligator, pasukan marinir, betapapun beraninya, tidak akan mampu menguasai Tarawa. Jika Shoup tidak mengantisipasi dan secara kreatif membuat rencana untuk mengatasi kondisi yang tidak terduga – pasang yang mengalami kesurutan dalam kondisi yang sangat jarang - Amerika mungkin mengalami kekalahan di pertempuran pertamanya yang penting yang merupakan bagian dari perperangan panjang dan berbahaya yang menuju kepada kekalahan Jepang.

 Melihat balik ke pasang yang gagal, Shoup tidak perlu bertanya kepada dirinya ” Kenapa saya tidak mengantisipasinya?”. Empat puluh tahun setelah peperangan tersebut, seorang profesor fisika dari Texas menemukan sebuah kondisi air pasang di Tarawa, yang tidak diketahui di tahun 1943, yang menghasilkan kegagalan pasang yang sangat jarang, yaitu hanya terjadi dua kali di tahun 1943. Salah satunya terjadi di waktu subuh, hari dimana  pasukan marinir mendarat untuk pertama kalinya di Betio, tepat ketika gelombang pasukan pertama yang menggunakan perahu Higgins menabrak pinggiran luar batu karang Betio.

 Peperanganan Torawa memberi kesan mendalam terhadap diriku, bukan hanya karena aku adalah seorang eks marinir, tetapi karena ayahku memimpin satu dari batalion marinir yang mendarat di Betio pada hari pertama. Ayahku adalah diantara mereka yang terpaksa berjalan menuju pantai di tengah desingan peluru tentara Jepang. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dia bisa lolos dari kematian.

 Tidak seperti Shoup dan ayahku, kebanyakan orang tidak mengantisipasi hal yang tidak terduga. Daripada mengharapkan kemungkinan terjadinya hal yang tidak terduga dan memikirkan cara penanggulangannya di muka, kebanyakan orang cenderung mengabaikan ketidakpastian. Sementara kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,  kebanyakan dari kita biasanya membuat rencana untuk hal-hal yang diketahui atau diharapkan dan membiarkan hal yang tidak diketahui dan tidak diharapkan berjalan dengan sendirinya. Pemikir tajam (sharp thinker), sebaliknya, mempertimbangkan kemungkinan terjadinya hal-hal yang berada di luar rencana.

 Mengetahui hal ini, pemikir tajam menghadapi kondisi di masa mendatang yang serba tidak pasti dengan cara membangun pemikiran yang fleksibel, mempersiapkan sekenario terburuk, mencadangkan sumber daya yang paling utama, dan menyiapkan langkah-langkah pencegahan. Dengan melakukan antisipasi terhadap hal yang tidak terduga, mereka akan bertanya di muka ” Apa yang akan saya lakukan jika hal-hal tidak berjalan dengan semestinya,  dan bagaimana saya akan mengeksploitasi situasi yang ada jika hal-hal berjalan lebih baik dari yang diharapkan? Bagaimana saya menghindari penyesalan di kemudian hari dengan bertanya : ” Kenapa saya tidak mengantisipasi hal tersebut”?

 Oleh Charles W. McCoy, Jr., pengarang buku : Why Didn’t I Think Of That?


Previous News     |      Next News

Current Rating: 2.250 (4 users)

Rate this news:



Online Pooling