Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,865.00 14,865.000
AUD 10,236.34 10,236.340
HKD 1,894.37 1,894.370
MYR 3,375.83 3,375.830
NZD 9,275.76 9,275.760
NOK 1,505.48 1,505.480
GBP 18,089.52 18,089.520
SGD 10,687.17 10,687.170
CHF 15,533.89 15,533.890
JPY 10,944.31 10,944.310
MMK 8.08 8.080
INR 188.60 188.600
KWD 48,464.03 48,464.030
PKR 72.29 72.290
PHP 270.59 270.590
LKR 41.26 41.260
THB 420.86 420.860
BND 10,700.27 10,700.270
EUR 15,591.30 15,591.300
CNY 2,219.01 2,219.010
KRW 11.50 11.500
Last update: 06/07/22 12:52:32
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Apakah Pemikiran Ini Komprehensif ?
posted by admin on 16/10/06

Pemikiran yang komprehensif mencari jawaban “yang paling tepat” dengan melakukan kajian yang lebih mendalam untuk menemukan solusi " yang terbaik" .

Untuk itu kejelasan dan ketepatan sangat diperlukan dalam memberikan sebuah gambaran yang benar. Sebagai ilustrasi, para ahli di Museum Seni Metropolitan New York gagal untuk menyadari bahwa mereka memiliki karya asli Van Gogh di tangan mereka .William Goetz menghasilkan cukup banyak uang dari usahanya di Hollywood sehingga memungkinkan dirinya untuk mengkoleksi benda-benda seni yang mahal. Setelah perang dunia kedua dia membeli lukisan potret diri di Eropa karya Vincent Van Gogh, yang berjudul “Study in Candlelight” dengan harga $ 50,000.

Kemudian dia membawa lukisan tersebut ke Amerika Serikat. Tidak lama kemudian seorang famili dari Van Gogh mengklaim bahwa pamannya tidak pernah membuat lukisan tersebut. Karena Goetz tidak ingin kehilangan seluruh investasinya akibat perkataan seseorang, maka Goetz mengundang empat ahli yang berasosiasi dengan Museum Seni Metropolitan New York untuk menguji hasil karyanya. Pada akhirnya, mereka secara bulat meragukan keaslian lukisan tersebut dengan berbagai alasan.

Meskipun Goetz mendapatkan berita buruk ini, dia pantang menyerah. Goetz kemudian mengirim lukisannya ke luar Amerika Serikat dan mengimpornya kembali. Seperti yang diharapkan, petugas bea cukai menetapkan cukai sebesar $ 5,000 karena hanya karya seni asli yang dapat masuk ke AS bebas pajak. Goetz menolak untuk membayar cukai tersebut dengan alasan bahwa lukisannya adalah asli karya Van Gogh. Hal ini memaksa petugas bea cukai untuk melakukan pengetesan keaslian lukisan tersebut.

Saat melakukan pemeriksaan, ahli-ahli dari bea cukai menemukan tulisan beraksara Jepang diantara detail lukisan tersebut. Tulisan beraksara Jepang tersebut merupakan kesalahan-kesalahan yang dapat ditemukan di karya-karya Van Gogh asli lainnya. Para ahli Museum Metropolitan di New York ternyata gagal menjabarkan arti dari ciri khas lukisan Van Gogh tersebut.

Melihat lebih jauh ke dalam, para ahli bea cukai meneliti detil lukisan tersebut dan kemudian memandang secara luas dengan cara mempertanyakan apakah detil yang ada konsisten dengan karya-karya Van Gogh yang asli lainnya. Mereka meneliti keseluruhan skenario, baik pepohonan maupun hutannya. Dengan berpikir dalam dan luas, analisa mereka yang komprehensif dapat menyelesaikan masalah tersebut. Pemikiran komprehensif, pemikiran yang dalam dan luas, mengarah ke kebijaksanaan (wisdom) yang lebih tinggi daripada pemikiran yang dangkal dan sempit. Kaidah / hukum ini berasal dari awal dimana sejarah mulai dicatat.

Ilustrasi berikut akan membantu memahami pengertian dari arti berpikir secara komprehensif.

Selama bertahun-tahun kepemimpinannya sebagai raja, Solomon memajukan kekuatan dan wibawa Israel jauh di atas dari yang pernah dicapai oleh bangsa tersebut sebelum atau sejak dia berkuasa. Masa pemerintahannya, dimulai sekitar tahun 970 sebelum Masehi, meninggalkan kedamaian dan kemakmuran yang tidak tertandingi oleh negara lain. Nama Solomon sendiri sesungguhnya berarti "kedamaian" dalam bahasa Ibrani.

Salomon sangat dikenang akan kegigihannya dalam menerapkan kebijaksanaan. Solomon menulis lebih dari 3000 kata-kata bijak, banyak diantaranya yang masih berlanjut mempengaruhi kehidupan masa kini. Menurut catatan Injil, Solomon memiliki wawasan yang luas, dan pemahaman yang luasnya bagaikan luasnya hamparan pasir di tepi pantai. Dikagumi secara luas atas kemampuan berpikirnya, orang awam harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat bertemu dan memperoleh petuahnya.

Satu peristiwa paling menonjol dan diingat dalam sejarah mengenai kebijakan Solomon adalah caranya yang brillian dalam menangani perselisihan antara dua pelacur. Pada masa Solomon berkuasa, banyak palacur yang juga merupakan budak dijual ke pelacuran oleh orang tuanya sendiri. Diukur dengan apapun juga, dua pelacur yang memasuki Pengadilan Keadilan Solomon pada hari itu diposisikan sangat rendah dalam strata sosial masyarakat. Tetapi secara pribadi Solomon memberikan keadilan untuk semua rakyatnya, tidak perduli dengan kedudukan mereka dalam masyarakat.

Kedua wanita tersebut membawa dua bayi, satu hidup satunya lagi meninggal. Masing-masing mengklaim berhak untuk menjadi ibu dari bayi yang hidup. Salah satu dari mereka berkata kepada Raja : “Wanita ini dan saya tinggal dalam satu rumah. Saya melahirkan bayi ketika dia disana bersama saya” . Di hari ketiga setelah anak saya lahir, wanita itu juga melahirkan bayi. Kami sendirian; tidak ada orang lain di rumah kecuali kita berdua. Ditengah malam bayi laki wanita itu meninggal karena dia berbaring di atas bayinya. Kemudian dia bangun di tengah malam dan mengambil anak saya dari samping saya ketika saya tidur. Dia meletakkan anak saya di dadanya dan meletakkan bayi yang meninggal di dada saya. Pagi berikutnya, saya bangun untuk merawatnya, dan ternyata dia sudah meninggal ! Tetapi ternyata itu bukan anak yang saya lahirkan. Wanita lainnya dengan penuh emosi membantah pengakuan wanita tersebut, menyebutkan bahwa keseluruhan cerita itu adalah kebohongan yang diciptakan untuk mencuri anaknya

Solomon menghadapi salah satu kasus tersulit yang ditimbulkan oleh dua orang tidak terhormat dimana masing-masing menyampaikan fakta yang saling kontradiktif. Tiada wanita yang dapat membuktikan kebenaran ceritanya atau membuktikan wanita lain sebagai seorang pembohong. Bukannya mengundi untuk memutuskan masalah yang membingungkan ini, Solomon melihat jauh ke dalam motif dari kedua wanita tersebut dalam usahanya untuk mencari kebenaran. Dia juga memandang lebih luas, dengan mempertimbangkan bagaimana seorang ibu akan bersikap jujur dalam menghadapi situasi seperti itu. Solomon berusaha keras untuk mengakomodir seluruh masalah yang ada disekitarnya .
“ Berikan saya sebilah pedang !” perintah Raja. “Potong bayi itu menjadi dua dan berikan separuh untuk yang satu dan separuhnya untuk yang lainnya. ” Ahli sejarah roman Josephus menceritakan bahwa orang – orang yang hadir di persidangan tertawa lepas begitu mendengar perkataan Salomon. Tetapi satu dari dua wanita tersebut secara naluriah langsung mohon pengampunan . “Mohon Rajaku, beri kesempatan hidup bayiku ! Jangan bunuh dia !” wanita yang lain hanya menjawab “ Tidak semuanya. Saya tidak memiliki, kamu juga tidak memilikinya. Potong dia menjadi dua !”

Dengan satu pukulan intelektual yang telak, Solomon mengekspos motivasi terdalam kedua wanita itu dan dari situ terkuaklah kebenaran yang sesungguhnya. Ketika dia tidak tahu siapa ibu sebenarnya dari bayi tersebut, Salomon tahu secara pasti kebenaran dari pemikirannya. Solomon memberikan bayi tersebut kepada wanita yang memohon ampun. Hakim di jaman sekarang tentunya tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan Salomon, tetapi kita patut menghargai dasar pendekatan Salomon yang brilian. Dalam injil dikatakan, “ Ketika semua orang Israel mendengar keputusan Salomon tersebut, mereka menaruh hormat kepadanya, karena mereka melihat dia mempunyai kearifan dari Tuhan untuk memberikan keadilan.” Pemikiran Solomon yang komprehensif diibaratkan sebuah sungai besar yang mengalir dalam dan lebar.

Kata " komprehensif " memiliki arti sama dengan " memahami". Untuk mengerti sesuatu permasalahan secara utuh, kita harus menyelidiki kedalaman, ketinggian, dan lebarnya permasalahan tersebut. Hal itu mencakup masa lalu, masa kini, masa yang akan datang, depan, belakang, dalam, luar, atas, bawah, semua sisi. Pemikiran yang komprehensif mencari jawaban “yang paling tepat” dengan melakukan kajian yang lebih mendalam untuk menemukan solusi " yang terbaik". Pemikiran yang komprehensif menelusuri lebih dalam penjelasan yang dangkal dan kearifan konvensional (tradisional); mempertimbangkan situasi secara terpisah dan juga sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Pemikiran yang komprehensif bergerak ke berbagai arah.

Anda dapat mencapai perspektif pemikiran yang terdalam dan terlebar dengan mengajukan pertanyaan - pertanyaan komprehensif berikut :

• Apakah pemikiran ini menyentuh akar permasalahan?
• Apakah pemikiran ini melakukan pendekatan dari berbagai perspektif?
• Apakah pemikiran ini memasukkan kemungkinan munculnya kompleksitas?
• Apakah pemikiran ini terlalu menyederhanakan permasalahan yang ada?
• Apakah kesimpulan yang saya buat terlalu tergesa-gesa?
• Apakah ini solusi terbaik?
• Apakah subjektifitas dapat secara negatif mempengaruhi pemikiran ini ?
• Bagaimana situasi ini saling berhubungan secara relevan dalam konteks yang lebih luas?
• Apakah pemikiran ini sudah mempertimbangkan segala macam kemungkinan yang signifikan ?

Saya menguji kekomprehensifan pemikiran orang lain dengan mengajukan pertanyaan dan pernyataan berikut :

• Jelaskan kepada saya pengertianmu secara mendalam (insights) terhadap permasalahan ini.
• Mari kita lakukan pendekatan terhadap masalah ini dari sudut yang berbeda.
• Apakah sudut pandang kamu terlalu sempit ?
• Apa yang telah kamu lakukan untuk menghilangkan atau mencegah timbulnya faktor subjektifitas (bias) ?
• Bagaimana pemikiran ini sesuai dengan skenario yang lebih besar ?
• Beritahu saya bagaimana orang lain memandang situasi ini.
• Apakah kamu sudah mencek dengan semua unsur-unsur terkait (stakeholders) disini ?
• Beritahu saya apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan solusi yang lebih baik.

Charles W. Mc Coy, Jr. pengarang buku: : " Why didn't I think of That ? "

Previous News     |      Next News

Current Rating: 4.000 (1 users)

Rate this news:



Online Pooling