Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,441.00 14,441.000
AUD 10,277.30 10,277.300
HKD 1,840.36 1,840.360
MYR 3,313.82 3,313.820
NZD 9,435.71 9,435.710
NOK 1,552.60 1,552.600
GBP 18,163.55 18,163.550
SGD 10,456.86 10,456.860
CHF 14,934.53 14,934.530
JPY 11,205.48 11,205.480
MMK 7.80 7.800
INR 188.65 188.650
KWD 47,199.06 47,199.060
PKR 77.80 77.800
PHP 276.38 276.380
LKR 41.73 41.730
THB 421.54 421.540
BND 10,475.47 10,475.470
EUR 15,293.07 15,293.070
CNY 2,184.72 2,184.720
KRW 11.47 11.470
Last update: 11/05/22 13:07:11
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Puluhan Unggas Mati di Sukabumi Bukan Akibat Flu Burung
posted by admin on 14/02/17

Selasa , 14 Februari 2017, 03:16 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI—Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Sukabumi melakukan pemeriksaan hewan ternak di sejumlah titik Senin (13/2). Langkah tersebut dilakukan menyusul adanya informasi yang menyebutkan ribuan unggas mati mendadak di Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi.

Sasaran utama pemeriksaan adalah peternakan burung puyuh di Kampung Selagombong RT 04 RW 03, Kelurahan Cibeureum Hilir, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi. Pasalnya, di lokasi tersebut awalnya dilaporkan terjadi kasus kematian unggas terutama burung puyuh.

‘’Setelah apel pagi, petugas kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner langsung ke lokasi peternakan,’’ ujar Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, (DKPPP) Sukabumi Sunaryo kepada Republika Senin (13/2).

Kedatangan petugas, terang dia untuk memeriksa sampel unggas yang mati dan melihat kondisi kandang hewan ternak. Hasilnya ungkap Sunaryo, unggas yang mati tersebut bukan mati karena penyakit flu burung maupun yang lainnya.

Dari keterangan dokter hewan lanjut dia kematian unggas akibat kurang bersihnya kandang. Selain itu lanjut dia, ratusan unggas itu harus berada dalam lokasi kandang yang sempit. Sehingga ada sejumlah unggas yang terinjak-injak maupun sesak di dalam kandang.

Jumlah unggas yang mati pun terang Sunaryo tidak mencapai ribuan ekor seperti yang beredar. Hal ini dikarenakan lokasi peternakan pun maksimal hanya mampu menampung sekitar 500 ekor saja.

Menurut Sunaryo, jumlah unggas yang mati dalam sepekan terakhir ini di peternakan tersebut hanya 10 hingga 20 ekor. Sementara pada Senn ini hanya satu ekor burung puyuh yang mati. Penyebab lainnya ungkap Sunaryo dikarenakan dalam peternakan tersebut hewan ternak yang dipelihara tidak hanya burung puyuh.

Di kandang tersebut dipelihara bebek dan ayam kalkun. Padahal sambung dia pemeliharaan unggas tersebut tidak boleh dicampur dalam satu kandang. Ditambahkan Sunaryo, petugas kesehaan hewan juga melakukan pemantauan ke tiga titik peternakan unggas lainnya di Cikundul, Kecamatan Lembursitu.

Hasilnya, di sejumlah tempat tersebut pun tidak ditemukan kasus unggas yang mati akibat penyakit. Dalam pemeriksaan hewan ternak itu lanjut Sunaryo, petugas memberikan himbauan agar peternak jangan membuang unggas yang mati secara sembarangan. Di mana, unggas yang mati tersebut lebih baik dikubur maupun dibakar.

Salah seorang dokter hewan yang juga Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner (DKPPP) Kota Sukabumi Riki Barata menambahkan, kematian unggas di peternakan Kampung Selagombang bukan disebabkan penyakit. Melainkan lanjut dia dikarenakan sistem manajemen pemeliharaan unggas yang kurang baik.Terutama kata Riki, peternak kurang memperhatikan biosecurity atau kebersihan kandang.  

Padahal, kebersihan kandang sangat menentukan untuk kesehatan hewan. Diakui Riki, kondisi musim hujan juga berpengaruh pada penyebaran penyakit pada unggas. Sehingga para peternak harus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi penyebaran penyakit.‘’ Kami sudah memberikan masukan kepada peternak untuk memelihara unggas dengan baik,’’ terang Riki.

Targetnya, tidak ada lagi temuan kasus unggas yang mati akibat penyakit maupun sistem manajemen pemeliharaan yang kurang baik.Lebih lanjut Riki mengungkapkan, kasus flu burung di Sukabumi terakhir ditemukan pada Desember 2013 lalu. Semenara sejak 2014 hingga 2017 ini tidak ditemukan kass flu burung.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID


Previous News     |      Next News

Current Rating: 0.000 (0 users)

Rate this news:



Online Pooling