Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,301.00 14,301.000
AUD 10,880.05 10,880.050
HKD 1,842.19 1,842.190
MYR 3,466.52 3,466.520
NZD 10,084.07 10,084.070
NOK 1,689.15 1,689.150
GBP 19,996.81 19,996.810
SGD 10,707.40 10,707.400
CHF 15,730.03 15,730.030
JPY 12,970.54 12,970.540
MMK 8.99 8.990
INR 194.38 194.380
KWD 47,723.22 47,723.220
PKR 91.12 91.120
PHP 296.91 296.910
LKR 72.06 72.060
THB 457.01 457.010
BND 10,777.56 10,777.560
EUR 17,164.39 17,164.390
CNY 2,222.56 2,222.560
KRW 12.74 12.740
Last update: 23/06/21 13:59:54
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Mampukah Ayam Broiler Mencapai 1.6 kg per ekor dalam 28 hari ??
posted by admin on 11/11/14

Mampukah Ayam Broiler Mencapai 1.6 kg per ekor dalam 28 hari ??


(Rumus 28 = 1.6 --> 50 = 33)

Oleh : Sopyan Haris


Bahasa Lapangan
Anda mungkin sempat berfikir rumus apakah itu. Bagi Anda yang "bermain" di kemitraan ayam broiler tentu tidak asing dengan hitungan-hitungan seperti itu. Dalam hitungan simpel di lapangan, sering terlontarkan "berapa kilogram daging broiler hidup yang dihasilkan dari satu karung pakan yang dikonsumsi ?". Dalam hitungan matematis adalah 50 kg pakan --> menghasilkan berapa kg ?

Kelihatannya itu adalah sebuah pertanyaan yang simpel tetapi jawabannya tidak sesimpel yang dibayangkan. Tidak ada angka pasti yang berani di klaim oleh siapapun. Andai ada pihak yang terang-terangan tunjuk tangan dan mengatakan berani menggaransi bahwa 1 karung pakan akan menghasilkan sekian kg daging broiler hidup, maka menurut saya itu termasuk pernyataan yang tidak masuk akal.

Kita coba kembali pada rumus yang tertera di judul yaitu 28 = 1.6 --> 50 = 33. Artinya adalah bila ayam broiler hidup umur 28 hari mampu mencapai berat badan 1.6 kg/ekor dengan konsumsi pakan kumulatif sebesar 2.420 gram/ekor maka 1 karung pakan (50 kg) akan menghasilkan daging ayam broiler hidup sebanyak 33 kg. Bahasa tersebut adalah bahasa lapangan di kalangan pelaku budidaya.

Bila bahasa tersebut kita tarik ke dalam bahasa ilmiah Biologi Ayam, maka akan menjadi : Ayam broiler umur 28 hari telah mampu mengkonsumsi pakan sebanyak 2.420 gram/ekor dan mencapai berat badan sebesar 1.600 gram/ekor. Konversi pakan yang dihasilkan adalah 1.51 atau effisiensi pakan sebesar 66%.

Dalam dunia teknis perunggasan, kalkulasi tersebut dinamakan "Performance Produksi" yang akan selalu dibandingkan dengan Standar Performance Genetik dari produsen bibit ayam sesuai dengan strain yang digunakan. Kita coba melihat ke Tabel 1. Standar Performance salah satu strain ayam broiler komersil di Indonesia yang dipublikasi Mei 2008, terlihat bahwa umur 28 hari hanya mampu mencapai berat badan 1.397 gram/ekor dengan mengkonsumsi pakan sebanyak 2.020 gram/ekor. Bila data Performance Aktual di atas dibandingkan dengan Tabel Standar Performance maka akan berada di posisi antara umur 30 dan 31 hari. Artinya adalah performance aktual di atas melebihi potensi optimal genetis yang dimiliki. Kondisi performance riil tersebut lebih cepat 2 hari dibandingkan dengan potensi genetisnya. 



Salah satu kegiatan sosialisasi Rumus 28 1.6

Sudut Pandang Effisiensi Ekonomi Produksi
Data aktual performance tersebut secara riil terjadi di kandang dan penulis sendiri yang mengalami (Gambar 1). Performance tersebut terjadi di salah satu kandang open house dengan populasi 5000 dan 3000 ekor. Memang tidak terlalu banyak, namun ada beberapa kunci utama yang mendorong sehingga akhirnya performance tersebut tercapai. Sebagian pelaku menganggap bahwa performance tersebut tidak excellent dan biasa saja tetapi mayoritas pelaku di budidaya sistem open house sedikit sekali yang mampu mencapainya.

Andai pasar penyerapan broiler Anda adalah ukuran 1.5 sampai 1.6 kg/ekor maka Anda cukup memelihara ayam hanya sampai umur 28 hari. Banyak effisiensi yang bisa Anda dapatkan, antara lain :
#1. Jumlah siklus pemeliharaan dalam 1 tahun yang bisa lebih banyak.

#2. Potensi pendapatan dalam 1 tahun yang bisa meningkat.

#3. Potensi penghematan biaya listrik dan air tiap periode yang bisa menurun.

Dalam kacamata ekonomi produksi jelas bahwa kondisi ini lebih menguntungkan.

Kondisi performance pada umumnya
Sering kali penulis menemukan ayam broiler umur 28 hari berat badan yang dicapai hanya maksimal sekitar 1.300 gram/ekor dan dalam kondisi "ngorok" yang cukup parah. Bila dilihat di catatan program medikasi ternyata cukup mencengangkan. Pada catatan tersebut terlihat minimal ada 3 fase pemberian medikasi (pemberian antibiotik) yang ternyata itu adalah "senjata bertahan diri" ketika manajemen pemeliharaan di kandang termasuk kategori "amburadul", dan sering pula ditemukan program penambahan asam amino maupun pemberian ATP yang konon diharapkan dapat membantu menambah berat badan.

Pilihan "bertahan diri" dengan antibiotik terpaksa dipilih karena berharap bahwa "ngorok" tersebut dapat disembuhkan olehnya. Dimana "ngorok" dan "e-Coli" seakan sudah diamini sebagai penyakit yang "diperbolehkan" hadir menemani ayam. Padahal "ngorok" dan "e-Coli" adalah cerminan bahwa kita masih harus belajar kembali bagaimana memahami kebutuhan ayam sesungguhnya. 



Kondisi riil kandang bukan kemitraan saat umur 25 hari


Kunci Utama Mencapai 28 = 1.6
Jujur penulis tidak berani menggaransi bahwa program yang penulis lakukan pasti akan memberikan performance yang sesuai dengan judul artikel ini. Tetapi penulis sekedar sharing untuk turut berbagi meningkatkan produktifitas bagi pelaku di sektor budidaya ayam broiler. Beberapa kunci yang penulis lakukan :

#1. Pengaturan densitas mengambil konsep memberi ruang gerak yang nyaman bagi pertumbuhan DOC. Sejak umur 3 hari, luasan brooder diperlebar setiap 3 hari, hingga pada umur 10 hari sudah full space kandang yang digunakan untuk 100% populasi ayam di dalam kandang. Gambar 2 adalah kondisi yang harus segera diperbaiki.

#2. Pengaturan ventilasi mengambil konsep menyediakan sebanyak mungkin oksigen segar ke dalam kandang. Bahkan sejak umur 3 hari "permainan buka-tutup tirai" sudah dilakukan. Konsep ini mengingat bahwa broiler adalah mampu tumbuh dengan cepat dengan proporsi jatung dan tubuh yang semakin kecil sehingga membutuhkan oksigen yang baik. Penulis yakin bahwa konsep ini tidak mudah diterima oleh pelaku budidaya, apalagi yang merasa sudah puluhan tahun sebagai peternak. Umumnya berpendapat takut ayamnya kedinginan, bahkan ayam sudah berumur lebih dari 20 hari-pun masih belum berani membuka tirai (Gambar 3).

#3. Sediakan tempat pakan dan tempat minum dengan perbandingan yang sesuai sehingga kompetisi antar ayam rendah.

#4. Tidak perlu melakukan pemberian antibiotik lebih dari 2 fase. Dengan menerapkan poin 1 dan 2 di atas maka poin 4 ini tidak sulit dilakukan.

#5. Tidak perlu melakukan pemberian asam amino tambahan atau ATP atau sejenisnya yang konon dapat menambah berat badan. Dengan menerapkan poin 1 dan 2 di atas maka pertumbuhan ayam sejatinya sudah dapat tumbuh optimal. Dengan menggunakan pakan berkualitas setara BRAVO (huruf "V" bukan "F") nutrisinya sudah cukup untuk ayam tumbuh optimal. 



Tabel Performance real di kandang terbuka bukan kemitraan Nov 2013 dengan populasi total 15000 ekor. Berat DOC 43 gr. Pakan selevel Bravo. 



Kondisi riil kandang saat umur 30 hari bukan kemitraan

Kunci Keberhasilan Program
Sering penulis ungkapkan bahwa sebagus apapun program yang dirancang di atas meja, tidak akan memberikan efek apapun manakala program tersebut tidak dilaksanakan dengan konsisten di kandang. Dalam konsep kemitraan ayam broiler, seringkali Technical Service maupun PPL kurang percaya diri untuk membimbing dan menyampaikan Program Manajemen yang harus dilakukan di kandang. Pada kondisi ini maka upaya "memastikan" bahwa Program Manajemen Pemeliharaan dapat berjalan 100% di kandang adalah suatu keharusan.

Bukan merupakan hal yang sulit untuk mencapai 1.6 kg per ekor broiler dalam 28 hari. Asalkan konsisten menerapkan 5 kunci yang penulis uraikan di atas. Kata bijak dari seorang motivator menyatakan “Berikanlah apa yang ayam butuhkan dan tunggulah apa yang akan ayam berikan”.


*. Artikel disampaikan kepada Majalah Poultry Indonesia
**. Sastrawan Perunggasan, kini tinggal di Banjarbaru - Kalimantan Selatan


Previous News     |      Next News

Current Rating: 0.778 (9 users)

Rate this news:



Online Pooling