Ciptapangan
Ciptapangan
SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?


Job Application Form
Job Application Form
CURRENCY
Currency Buy Rate Sell Rate
USD 14,301.00 14,301.000
AUD 10,880.05 10,880.050
HKD 1,842.19 1,842.190
MYR 3,466.52 3,466.520
NZD 10,084.07 10,084.070
NOK 1,689.15 1,689.150
GBP 19,996.81 19,996.810
SGD 10,707.40 10,707.400
CHF 15,730.03 15,730.030
JPY 12,970.54 12,970.540
MMK 8.99 8.990
INR 194.38 194.380
KWD 47,723.22 47,723.220
PKR 91.12 91.120
PHP 296.91 296.910
LKR 72.06 72.060
THB 457.01 457.010
BND 10,777.56 10,777.560
EUR 17,164.39 17,164.390
CNY 2,222.56 2,222.560
KRW 12.74 12.740
Last update: 23/06/21 13:59:54
1 troy oz

=

  31.10 gram
1 US bushel (bu)

=

  35.24 liter
1 barrel (bbl)

=

158.97 liter

Ciptapangan Visitor
Bahaya FCR Terinvoice pada Kemitraan Broiler
posted by admin on 10/05/13

Bahaya FCR Terinvoice pada Kemitraan Broiler  [1])

 

Oleh: Sopyan Haris, S.Pt. [2])


Pola kemitraan dalam budidaya ayam broiler akhir-akhir ini semakin menjadi trend. Memang belum ada data resmi yang mempublikasi berapa prosen proporsi budidaya mandiri dengan budidaya pola kemitraan. Bila saja akan dilakukan survey secara Nasional saya memperkirakan bahwa lebih dari 75% populasi ayam broiler di Indonesia dibudidaya melalui pola kerjasama kemitraan yang dikelola oleh perusahaan yang disebut Perusahaan INTI, sedangkan 25% sisanya dibudidaya secara mandiri oleh peternak. Perusahaan INTI tersebut dapat dikelompokkan pada 3 kelompok besar yaitu

1.       Perusahaan INTI yang merupakan Agen atau Big Customer dari perusahaan sapronak perunggasan,

2.       Perusahaan INTI yang merupakan kongsi dari beberapa orang pemodal besar,

3.       Perusahaan INTI yang merupakan bagian dari Poultry Shop.

 

Tingginya porsi budidaya yang tergabung dalam pola kerjasama kemitraan ini terjadi karena tingginya harga sapronak (DOC, pakan, medicine) yang mengambil porsi sekitar 90-95% dari Cost (biaya produksi) per kg berat hidup broiler, sedangkan 5 – 10% nya merupakan biaya operasional (sekam, pemanas, tenaga kerja, listrik+air, biaya penyusutan kandang).

 

Betapapun tingginya harga sapronak, proses budidaya ayam broiler sebagai bagian integral ketahanan pangan hewani harus tetap berlangsung, sehingga pola kerjasama inti-plasma merupakan alternative pilihan yang masih dapat dikembangkan.

 

Pengertian FCR

Dalam dunia budidaya ayam pedaging, ada variabel yang dinamakan FCR (Feed Conversion Ratio) yang menunjukkan besaran perbandingan antara jumlah konsumsi kumulatif pakan dibandingkan dengan rata-rata berat panen yang dihasilkan.

 

Dengan pengertian biologis seperti itu artinya konsumsi kumulatif pakan adalah sejumlah (100%) pakan yang benar-benar dikonsumsi oleh ayam yang akan dibandingkan dengan 100% hasil berat badan ayam.

 

Oleh karena itu rumus FCR biologis dapat diformulasikan sebagai berikut :

 

                                                  100% Jumlah pakan yang dikonsumsi ayam

Feed Convertion Ratio = -----------------------------------------------------------------

                                                     100% Berat badan ayam yang dihasilkan

 

Semakin kecil nilai FCR akan semakin baik, karena menunjukkan semakin tingginya efisiensi produksi penggunaan pakan yang menghasilkan bobot panen.

 

Pengertian FCR “Terinvoice”

Pada kenyataannya, dalam dunia kemitraan ayam pedaging yang "notabene" berangkat dari klausul perjanjian kerjasama harga kontrak sapronak dan harga garansi ayam hidup, variabel FCR ini sering menjadi area "permainan" oleh peternak maupun oleh pelaku kemitraan itu sendiri di tingkat operation di lapangan.

Alih-alih untuk mendapatkan "performance" yang baik, maka "kecerdasan" digunakan untuk mengutak-atik FCR. Bukan tanpa sebab, rendahnya FCR akan berdampak pada besaran nilai insentif yang akan didapatkan oleh peternak dan rapot yang "dikatakan bagus" bagi pelaku kemitraan di lapangan. Faktor inilah yang menjadi pemicu bermainnya "kecerdasan" dalam tanda kutip.

 

Bermainnya "kecerdasan" ini dilakukan dengan membatasi penggunaan pakan dari perusahaan kemitraan dan menambahkan "sekian persen" pakan dari sumber lain yang berkualitas berbeda dan harga yang juga pasti berbeda.

 

Hasil dari bermainnya "kecerdasan" inilah yang akhirnya memunculkan istilah "FCR Terinvoice" dan bukan FCR Biologis. Sehingga seringkali nampak bahwa performance ayam hingga umur 21 hari tampak biasa saja, tetapi setelah panen selesai, performance menjadi meningkat secara "Excelent" dalam tanda kutip.

 

Istilah "FCR Terinvoice" diterjemahkan sebagai konsumsi pakan kumulatif terinvoice dibandingkan dengan berat panen yang dihasilkan.

 

Oleh karena itu rumus FCR “Terinvoice” dapat diformulasikan sebagai berikut :

 

                                                      Jumlah pakan sesuai Surat Jalan (invoice)

Feed Convertion Ratio = -------------------------------------------------------------------

                                                 Berat badan ayam sesuai data panen (invoice)

 

FCR tersebut akan bernilai kecil dengan mengurangi jumlah pakan (melalui pembatasan pengiriman pakan ke peternak plasma) namun tetap dibandingkan dengan berat badan yang dihasilkan oleh peternak plasma. Oleh karena itu “FCR Terinvoice” tidak dapat dijadikan rujukan bagi analisa performance biologis ayam broiler yang dipelihara.

 

Sangat tidak logis bila setelah tutup kandang dan dilakukan perhitungan performance didapatkan hasil performance dengan IP 360, Rata-rata berat panen 2kg/ekor, daya hidup 95%, FCR 1,5 dengan umur panen 35 hari.

 

Sebaik-baiknya aplikasi manajemen maupun kualitas sapronak yang digunakan, sangat tidak logis performance broiler di Indonesia mampu mencapai IP di atas 330. Adanya istilah “FCR Terinvoice” akan membuat IP di atas 340 merupakan hal mudah, namun performance tersebut hanyalah kamuflase.

 

Dampak Negative FCR “Terinvoice”

Di sisi peternak sebagai plasma maupun di sisi pelaku kemitraan di lapangan, "permainan" ini memberikan keuntungan secara ekonomi dan non ekonomi. Tapi tanpa disadari sebetulnya "permainan" ini menyebabkan kerugian yang berlipat bagi perusahaan INTI itu sendiri.

 

Kerugian tersebut adalah :

1. Perusahaan harus memberikan kepada peternak plasma berupa  insentif FCR hasil dari "FCR Terinvoice" yang tidak wajar,

2. Perusahaan harus membeli ayam hidup dari peternak plasma dengan harga garansi sesuai perjanjian, padahal peternak menggunakan "sekian persen" sapronak yang bukan dari perusahaan kemitraan yang diikutinya.

 

Perdebatan Proposal Kemitraan

Terlepas dari perdebatan yang menyatakan sama-sama untung bagi peternak, petugas maupun perusahaan, saya mencoba melihat dari sisi Akad (Klausul Perjanjian) secara tertulis hitam di atas putih.

 

Umumnya terdapat pasal yang menyatakan bahwa peternak harus menggunakan sapronak dari perusahaan inti dan tidak diperkenankan menggunakan sapronak dari sumber lain.

 

Pasal yang lain menyatakan bahwa perusahaan berkewajiban membeli kembali ayam hidup dari hasil pemeliharaan oleh peternak.

 

Sangat mungkin terjadi bahwa Performance Produksi di tingkat Perusahaan INTI sangat bagus tetapi secara financial perusahaan INTI tidak mengalami profit. Keadaan ini boleh jadi akibat kasus “FCR Terinvoice” yang sangat luar biasa.

 

“Performance ayam di peternak plasma cukup bagus tetapi peternak plasma tidak mendapatkan keuntungan”, kalimat tersebut sering dijadikan argumentasi sebagai bentuk dukungan terhadap “permainan FCR Terinvoice” ini.

 

Pada posisi tersebut saya mempersilahkan Anda yang mengambil keputusan dan penilaian tentang "FCR Terinvoice" tersebut.

 

Saya teringat seorang rekan memasang status di Facebook yang kira-kira berbunyi "Sertakanlah hati dalam setiap tindakan yang kita lakukan, maka niscaya hasil yang indah dan bermakna akan kita dapatkan".

 

[1] Salah satu dinamika dalam bisnis kemitraan – Telah dipublikasi pada Majalah POULTRY INDONESIA

[2] Sastrawan perunggasan, tinggal di Samarinda

 


 

 

 


Previous News     |      Next News

Current Rating: 1.800 (5 users)

Rate this news:



Online Pooling